Latest Post
Showing posts with label Pembangunan. Show all posts
Showing posts with label Pembangunan. Show all posts

Didamping Ning Lik, Mas Abu Sapa dan Mereview Usulan Warga Kel Pojok Dalam Acara Kopi Tahu

Written By Hapraindonesia on 12/05/2017 | 10:15

Foto: Dok/Hms
Kediri, hapraindonesia.co - Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar menyapa warga Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto dalam agenda Kopi Tahu. Kali ini Kopi Tahu digelar dilingkungan RT 22 RW 05 Kelurahan Pojok, Selasa (04/12/2017) Malam. Tidak hanya sekedar menyapa warga, walikota yang populer dengan sapaan Mas Abu ini juga mereview kembali beberapa usulan warga Kelurahan Pojok pada Kopi Tahu lalu.

Beberapa usulan yang telah direalisasikan diantaranya, usulan Imam Mahmudi Ketua RT 01 RW 06 yang mengusulkan mengenai usulan yang tidak tercover Prodamas tentang akses masuk sebelah utara Wilis, ada jembatan apabila hujan airnya sering meluber ke jalan dan jalan sangat sempit dan sering terjadi kecelakaan, sehingga sangat meresahkan warga. Solusinya adalah peninggian jalan yang telah dilakukan pada tahun 2015.

Selanjutnya, usulan Sirojul Munir terkait solusi mengenai pengolahan sampah yang kurang diperhatikan, sehingga menimbulkan bau yang menyengat di wilayah setempat. Usulan tersebut telah ditindaklanjuti dan dilaksanakan pada tahun 2015 dan 2016 serta berjalan hingga sekarang.

Dalam Kopi Tahu ini, Mas Abu sapaan akrab walikota kediri juga menyampaikan beberapa program Pemerintah Kota Kediri diantaranya, hibah bansos, taman kota, pembangunan gedung baru RSUD Gambiran dan kampus 2 Politeknik Kediri. Adapula transportasi gratis bagi pelajar yakni angkot dan bus sekolah gratis, layanan halte bus dan angkutan umum, zona aman selamat sekolah, beasiswa mahasiswa bagi warga kurang mampu, seragam gratis bagi pelajar, English Massive, perpustakaan keliling, homecare, ambulan gratis, serta posyandu lansia dan balita.

Selain itu, Mas Abu juga menyampaikan bahwa Kelurahan Pojok berada dekat dengan beberapa Perguruan Tinggi yang dapat dimanfaatkan guna menjalankan roda perekonomian masyarakat. Diantaranya Universitas Kadiri (UNIK) yang sudah lama hadir di Kediri dan Kampus II Politeknik Kediri yang merupakan gedung baru berlokasi bersebelahan dengan Brigif 16/WY Kediri.

"Saat ini Pemkot Kediri sedang mengupayakan agar Politeknik Kediri dapat berstatus negeri. Kalau nanti sudah bisa menjadi negeri tentunya akan lebih menarik mahasiswa dari dalam dan luar Kota Kediri untuk menuntut ilmu disana. Dan ini juga menjadi peluang ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh panjenengan semua," ujarnya.

Mas Abu juga menitipkan pesan kepada warga untuk tidak menyalahgunakan Kuburan Cina untuk kegiatan yang tidak baik. Disarankannya, jika ingin tempat yang enak untuk kumpul-kumpul dengan teman bisa menggunakan fasilitas Kota Kediri, salah satunya Taman Sekartaji.

Dalam agenda Kopi Tahu malam ini juga memberikan kesempatan kepada warga untuk menyampaikan aspirasinya. Salah satunya Katno, warga RT6 RW6 yang berstatus sebagai Ketua Satgas PPA Kelurahan Pojok. Katno menyampaikan saat ini Satgas PPA Kelurahan Pojok telah melakukan validasi anak-anak putus sekolah atas informasi dari RT RW Kelurahan Pojok. Hasil yang diperoleh adalah tercatat 8 siswa dari keluarga kurang mampu yang putus sekolah.

"Salah satu kasus anak putus sekolah ada di RT5 RW8 yang sudah tidak bersekolah lagi semenjak september 2017, alasannya adalah pendapatan orangtuanya yang kerja srabutan tidak cukup untuk menanggung biaya sekolah. Kamis lalu, kami dari Satgas PPA juga sudah mengajukan ke pihak sekolah swasta tempatnya bersekolah terkait penggunaan Kartu Indonesia Pintar (KIP), namun pihak sekolah menyampaikan bahwa dananya tidak bisa cair. Mohon kepada pak Walikota untuk memberikan solusi," ujar Katno.

Mas Abu pun langsung memberikan tanggapannya terkait hal tersebut. Baginya sekolah tetap wajib. "Dia harus tetap bersekolah. Kalau memang tidak bisa di sekolah swasta, kita masukkan sekolah negeri saja yang penting si anak ini bisa terus bersekolah dengan semangat. Nanti Pemda yang akan membantu," ujarnya.

Disampaikannya temuan seperti ini harus segera disampaikan kepada pemerintah agar dapat dengan segera ditindaklanjuti. Mas Abu minta pak Katno segera berkoordinasi lebih lanjut dengan BP3AP2KB dan Dinas Pendidikan untuk kelengkapan data anak-anak yang disebutkan diatas.

Untuk diketahui, melalui acara Kopi Tahu ini, Pemerintah Kota Kediri tidak hanya menampung aspirasi masyarakat saja, namun juga direalisasikan. Dalam kesempatan ini selain dihadiri warga Kelurahan Pojok, juga dihadiri Wakil Walikota Kediri Lilik Muhibbah dan kepala OPD dilingkungan Pemerintah Kota Kediri.

(Adv/Hms)

Wujud Sinergitas antara TNI, Polri dan Masyarakat

Written By Hapraindonesia on 12/15/2015 | 12:33

TNI, Polri bersama masyarakat berotong royong membangun Masjid di Desa Kayunan, Kec Plosoklaten, Kab Kediri


















Kediri, hapraindonesia.co - Perhatian terhadap tempat ibadah tidak hanya sekedar datang dan pergi atau hanya sekedar berkunjung dan melihat-lihat saja. Sebagai wujud nyata sinegritas antara pihak TNI, Polri dan Masyarakat, Koramil 14 bersama Polsek Plosoklaten beserta masyarakat membantu pembangunan Masjid Karomah yang terletak di Desa Kayunan Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri, Selasa (15/12/2015).

“Masjid Karomah sebenarnya sudah ada sejak dulu, cuma saat ini struktur bangunannya lebih dipercantik lagi juga diperluas maju ke depan, sekaligus membongkar tempat wudhu yang dulunya kurang enak dipandang, ke depan akan berubah menjadi berlapis keramik” kata Danramil Plosoklaten Kapten Inf Joko Maryadi

Masjid Karomah sendiri sebenarnya berdiri diatas Tanah Wakaf dan mampu menampung sekitar 300 jamaah. Bangunan yang semula sejajar dengan tanah disekitarnya, bagian sekitar masjid ditinggikan sedangkan lantainya masih tetap seperti semula, hanya bagian depan pintu masuk yang berubah total.

“Mumpung hujannya masih sekedar numpang lewat, kita percepat pembangunan masjid ini, toh nantinya semua itu untuk kepentingan warga setempat. Saya sendiri sudah berjanji kepada Pak Danramil (Plosoklaten) ,usai Pilkada Kediri, seluruh anggota Polsek Plosoklaten akan membantu percepatan pembangunan masjid ini” ungkap Kapolsek Plosoklaten AKP Samsul Huda ketika ditemui awak media

AKP Samsul menambahkan diharapkan masjid ini akan bisa digunakan sebelum tahun baru tiba, apalagi lantai dalam masjid sudah rampung sekitar 90%, hanya saja penerangan didalamnya masih belum terpasang. “ mudah mudahan masjid ini akan cepat rampung sebelum tahun baru tiba, dan lantai juga sudah 90% rampung. Hanya saja masih kurang penerangan di bagian dalam” Ujarnya. (B@m)

Banyak Jalan Berlubang di Kab Kediri, Membahayakan Pengguna Jalan

Written By Hapraindonesia on 3/31/2015 | 15:51

Kediri, hapraindonesia.co - Banyaknya jalan umum dan provinsi disebagian wilayah Kabupaten Kediri berlubang dan rusak. Kondisi jalan yang rusak itu menyebabkan para pengendara yang melintas mengalami kecelakaan.

Meski sudah diperbaiki oleh pihak PU Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri, jalan tersebut kembali rusak.

Kabbag Humas Pemkab Kediri, M. Haris Setiawan menjelaskan, sejumlah jalan rusak yang berada di wilayah Kabupaten Kediri, sebagaian sudah masuk data dan akan segera diperbaiki."Data jalan yang rusak memang banyak masuk. Dan kami sudah melakukan pendataan. Tentunya akan kami perbaiki,"jelas M. Haris Setiawan.

Masih kata Haris, jalan yang rusak dan berlubang akan segera diperbaiki itu disebabkan karena truck pasir yang muatannya melebihi notase.

Oleh karena itu, untuk memperbaiki jalan yang rusak, Pemkab Kediri akan mendahulukan jalan yang sering terjadinya kecelakaan."Yang pastinya akan kita dahulukan yang sering terjadi kecelakaan.

Kalau belum parah rusaknya ya belum kita perbaiki. Saya berharap para pengendara lebih hati-hati dijalan saat berkendara,"ungkap Kabbag Humas Pemkab Kediri.

Perlu diketahui di jalan Provinsi Desa Wonokerto, Kecamatan Plemahan jurusan Kunjang, banyak badan jalan yang rusak dan berlubang. Dan pada hari Jumat (27/3) lalu sekitar pukul 21.15 Wib seorang pengendara sepeda motor mengalami kecelakaan di jalan tersebut hingga mengalami luka parah.

Tak hanya itu saja, di jalan umum Desa Gayam, Kecamatan Gurah dan di Desa Wonosari, Kecamatan Pagu, bahu badan jalan berlubang. Untuk menghindari kecelakaan warga memberi papan dan tong.(Dt/B@m)

Belum Genap 6 Bulan Diperbaiki, Jalan Umum Di Plemahan Kembali Rusak

Written By Hapraindonesia on 3/25/2015 | 16:07

Kediri, hapraindonesia.co - Belum genap 6 bulan setelah diperbaiki oleh pihak Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pemerintah Kabupaten Kediri, jalan umum di Desa Wonokerto, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, kembali rusak.

Jalan yang Rusak dan berlubang mengakibatkan sering terjadinya kecelakaan pengendara jalan bermotor yang melintas di jalan tersebut. Apalagi jika hujan turun, guyuran air hujan menutupi lubangan jalan dan hal tersebut sangat membahayakan pengguna jalan.

Untuk menghindari terjadinya kecelakaan, akhirnya warga memberi tanda dengan menanam tanaman pepaya serta kayu berukuran 1 meter di ruas badan jalan yang rusak. Pasalnya, ruas jalan tersebut berlubang penyebab kecelakaan. "Penanaman pohon pepaya sudah sekitar 1 minggu mas, ini sengaja kami lakukan untuk menghindari terjadinya kecelakaan,"tutur Ponco mulyono, 54, warga setempat, Rabu (25/3).

Menurut Ponco, dalam kurun 1 Bulan ini terhitung ada 12 peristiwa kecelakaan yang terjadi di jalan umum tersebut. Selain jalan tersebut rusak, di malam hari jalan tersebut tidak ada lampu penerangan jalan. Akibatnya, para pengendara sering mengalami kecelakaan saat melintas. "KaLau yang sering malam hari kecelakaannya, kebanyakan ya yang naik sepeda motor,"terangnya.

Karena seringnya terjadi kecelakaan dan tidak adanya lampu penerangan jalan, Ponco berharap dari pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri, segera memperbaiki jalan tersebut serta memberi lampu penerangan jalan.(Dt/B@m)

Keterangan Gambar : Jalan Rusak Di jalur Plemahan, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri Jawa Timur.

Banyak Galian Kabel Ditepi Jalan Membahayakan Di Kota Kediri

Written By Hapraindonesia on 3/23/2015 | 18:53

Kediri, hapraindonesia.co - Kalangan DPRD Kota Kediri, Jawa Timur melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah titik lokasi galian kabel di tepi jalan.

Sidak dilakukan, setelah dewan menerima keluhan dari masyarakat terkait galian kabel yang mengganggu pengguna jalan.

Dalam sidak tersebut melibatkan Badan Permodalan Daerah (BPM), Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Bagian Umum Pemerintah Kota Kediri. Lokasi sidak antara lain di sepanjang Jalan Mayor Bismo Kota Kediri, khususnya didepan Kantor Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP).

"Kami memberikan rekomendasi kepada saudara Walikota Kediri untuk segera membuat Peraturan Walikota (Perwali) berkaitan dengan galian di tepi jalan raya. Sebab, selama ini peraturan daerah (Perda) yang ada hanya mengatur tentang retribusinya," ujar Ketua Komisi C DPRD Kota Kediri, Senin (23/3/2015).

Masih kata politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Kediri itu, pihaknya berharap agar penggali lebih berhati-hati lagi dalam bekerja. Pihaknya tidak ingin penggalian tanah di tepi jalan justru bisa menjadi penyebab terjadinya kecelakaan terhadap pengguna jalan raya.

Perlu diketahui bahwa, sebelum sidak, kalangan DPRD sempat melakukan hearing dengan sejumlah sakter terkait. Dalam hearing tersebut, Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Kediri Hadi Sucipto sempat mempertanyaan aturan galian dan saksi, terhadap pihak penggali yang belum mengantongi izin, sebelum melakukan penggalian.

"Kami mempertanyakan aturan terhadap penggalian tanah ini. Sebab, selama ini setelah menggali, biasanya mereka terkesan tidak bertanggung jawab. Mereka tidak bersedia mengembalikan fungsi tanah yang sudah digali tersebut," ujar Hadi Sucipto mempertanyakan.

Sementara itu, pihak Pemkot Kediri selama ini hanya berpedoman pada perda Nomor 7 tahun 2000 tentang galian dan belum mengatur galian tentang kabel milik operator seluler.(An/B@m)

Keterangan Gambar :  Kalangan DPRD Kota Kediri, Jawa Timur melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah titik lokasi galian kabel di tepi jalan (23/3)

Aneh'' Belum Setahun Plengsengan Jembatan Mondo Ambrol Dua Kali

Written By Hapraindonesia on 2/14/2015 | 11:40

Kediri, hapraindonesia.co – Plengsengan (Talut) jembatan Mondo Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri yang baru selesai dibangun pada akhir 2014 lalu kembali ambrol. Sebelumnya pada November 2014 lalu Talut jembatan Mondo ini ambrol ketika dalam finising pengerjaan yang disebabkan tingginya curah hujan.

Namun anehnya, setelah dalam tahap pemeliharaan dan belum sempat diserahkan ke Pemkab Kediri talut jembatan Mondo kembali ambrol. Dugaan sementara ambrolnya talut jembatan itu juga karena derasnya aliran sungai usai terjadi hujan deras pada Sabtu 14 /2 lalu.

Menurut beberapa warga setempat, Setu, ketika itu Aliran air sungai yang mengalir dari arah barat dengan sangat kencang akhirnya menggerus plengsengan jembatan yang baru selesai dibangun dan belum diserahg terimakan pihak rekanan PT. Triple’s Putra Kediri ke pihak Pemkab Kediri.

Lain dengan Setu, Poniman (61), mengatakan jika masalah bangunan secara teknis tidak tahu menahu, harapan masyarakat umum maunya kualitasnya di tingakatkan secara tekhnis. Sehingga apapun permasalahnnya seharusnya pihak pembangun harus tahu.

Hal senada Koirudin (56), warga setempat juga mengungkapkan seharusnya ditangani dengan sebaik-baiknya. Masalahnya kan ini proyek besar, jadi tidak se enaknya saja membangunnya, “paku buminya itu kan gak dalem nancepinnya, paling ya hanya 2 meter saja, kalo digerus 1 tahun saja kan sudah hilang, seharusnya ya minimal 6 meter paku bumi itu nancap kedalam tanah. " tandasnya

Disisilain menurutnya masih banyak janji kontraktor yang belum di penuhi seperti pengerukan tanah warga oleh pihak proyek pada waktu pembangunan jembatan mondo, dan mengakibatkan banjir di sekitar rumah warga jika terjadi turun hujan.

“Masalahnya janj-janjinya masih banyak yang belum dipenuhi, seperti pengerukan tanah warga oleh pihak proyek pada waktu pembangunan jembatan. Got- got di kampung di keruk, setelah di keruk sampai proyek selesai tidak dibetulin lagi, akhirnya aliran air tersumbat dan mengakibatkan bajir di rumah warga” tandasnya.

Diketahui, pembangunan jembatan dan talut menjadi satu paket, dengan nilai pagu anggaran Rp 5 Milyar dari APBD 2014. Pengerjaan dimulai pada April 2014 dan pembangunan harus selesai pada November 2014. (B@m)

Keterangan Gambar : Kondisi plengsengan (Talut) jembatan Mondo yang ambrol ke 2 kalinya.

Ditengarai Pengerjaan Asal-asalan,Plengsengan Jembatan Mondo Ambrol

Written By Hapraindonesia on 11/17/2014 | 12:54

Kediri, hapraindonesia.co - Plengsengan di sekeliling jembatan Mondo yang berada di Desa Mondo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, yang sedang dalam tahap pembangunan, Minggu (16/11) sekitar pukul 19:00 WIB tiba-tiba ambrol.

Jembatan yang menghubungkan antara Desa Sukoanyar dan Desa Mondo, atau salah satu akses jalan utama menuju tempat wisata andalan Kabupaten Kediri, yaitu Air Terjun Dolo, dan Irenggolo yang sekaligus sebagai jalan alternatif ke arah Tulungagung ini diduga plengsengannya dibangun asal-asalan saja, seakan kurang bahan bangunan.

Terbukti, meskipun hujan yang mengguyur wilayah Kediri saat itu dapat dibilang sangat lebat, namun hanya berlangsung sebentar saja. Anehnya, bangunan yang termasuk mega proyek dengan menelan APBD Kabupaten Kediri 2014 senilai Rp. 5.174.103.190.00 tersebut, ternyata hancur cuma lantaran terkena hujan sebentar sebentar saja.

Untung saja, saat kejadian ambrolnya plengsengan tersebut, tidak menimbulkan korban jiwa. Seandainya sewaktu ambrol itu sedang ada pekerja, atau orang lain, tentu menjadi bencana mendalam bagi dirinya. Menurut Kasir (22) salah seorang warga sekitar jembatan beranggapan kalau dalam pembangunan plengsengan yang menjadi pendukung dari jembatan tersebut dikerjakan hanya asal-asalan saja.

“Wong udane gak deres tenan ngunu wae kok, mosok plengsengane wis gak kuat. Opo pas mbangun kuwi gak enek semene yo?” gumamnya dalam bahasa Jawa sambil geleng-geleng kepala saat melihat reruntuhan plengsengan di sekeliling jembatan di Desa Mondo.

Hal senada juga diungkapkan Dimyati (70), yang juga warga sekitar jembatan kepada Hapra Indonesia mengaku sangat menyayangkan ambrolnya bangunan tersebut. Pasalnya bangunan ini menghubungkan antara dua desa ini sangat dibutuhkan untuk warga sekitar sebagai sarana transportasi, dan juga akses jalan tempat wisata di Besuki.

“Peh, jan ngeri mas, umpama pas enek wong liwat opo ora yo cilaka ? lek mbangun kuwi mbok ya sing rodok kuat tur apik ngunu giniyo, wong lek mbangun yo njupuk saka duwit APBD, duwite wong bayar pajek, pemerintah kan gur pelaksana,” ujarnya bergaya Jawa medok.

Seperti diketahui, pada tahun 2013 lalu jembatan Mondo yang terletak di Desa Mondo, Kecamatan Mojo tersebut ambruk akibat erosi tanah dan hujan deras selama beberapa hari. Sontak saja kejadian itu membuat perekonomian warga di Mojo menjadi terganggu. Kendaraan-kendaraan besar pun terpaksa melalui jalur alternatif yang relatif lebih jauh dan sempit, sehingga menimbulkan kemacetan apabila bertemu dengan kendaraan lain dari arah berlawanan.

Diharapkan jembatan yang baru ini nantinya bisa lebih kokoh untuk menghadapi cuaca ekstrim, seperti hujan maupun banjir. Bahkan jembatan dengan panjang 23 meter dan lebar 8 meter ini rencananya akan menghabiskan biaya sebesar Rp 5 miliar lebih bersumber dari APBD Kab Kediri. Sayangnya, proses perbaikan Jembatan Mondo ini terbilang berjalan lambat. Molornya perbaikan Jembatan Mondo membuat warga sekitar merasa resah karena hingga kini belum dapat digunakan secara maksimal karena pembangunannya belum juga selesai.

Keresahan warga semakin bertambah manakala harus melewati jalan alternatif sejauh lima kilometer lebih. Apalagi ketika pembangunan belum selesai, ternyata terlihat rapuh hingga runtuh hanya lantaran terkena hujan sebentar saja, tidak sampai satu jam lebih.

Sementara itu, pelaksana dan pengawas pembangunan jembatan maupun Kepala Dinas PU Pemkab Kediri, Ananta, hingga berita ini naik cetak belum ada yang dapat dikonfirmasi terkait ambrolnya jembatan Mondo tersebut. Saat dikonfirmasi di kantornya tidak berada di tempat, dan ketika dikirimi pesan singkat melalui ponselnya, Ananta, menjawab kalau dirinya sedang sibuk mengikuti rapat. (B@m)

Keterangan Gambar : Kondisi plengsengan jembatan mondo yang dalam posisi masih pengerjaan dan sudah ambrol.

Pasar Benih Ikan Pemkot Kediri Mangkrak

Written By Hapraindonesia on 10/17/2014 | 13:43

Kediri, hapraindonesia.co - Nasib Bangunan Pasar benih ikan milik Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Kediri di Kelurahan Tempurejo, mangkrak. Sejak berdiri hampir dua tahun lebih, bangunan tersebut terlihat tak berfungsi dan hampir roboh.

Sebanyak tiga ruangan di dalam lokasi pasar benih ikan nampak pintu-pintu ruangan yang terbuka dan jebol karena tidak terawat. Tidak hanya itu, dalam tiap ruangan yang dulu digunakan sebagai tempat untuk menyimpan benih ikan hias, kini hanya terlihat kursi meja yang berserakan dan tumpukan-tumpukan wadah bekas tempat benih ikan Cupang yang terbuat dari kaca berukuran 25 cm x 25 cm berantakan dan tak terurus.

Bangunan yang dibangun dengan tujuan untuk pasar dan budidaya benih ikan di daerah Kota Kediri tersebut, saat ini terlihat terbengkalai tanpa ada aktivitas jual beli maupun keramaian pedagang. Purnomo (26), warga Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri kepada Hapra Indonesia mangatakan, lokasi tersebut dulunya sempat digunakan untuk pasar benih ikan oleh Dinas Pertanian dan Perikanan setempat.

Tetapi entah kenapa sejak dua tahun belakangan ini bangunan tersebut menjadi tak berguna. “Dulu setahu saya bangunan ini pernah ada aktifitas dan digunakan sebagai pasar benih ikan cupang, tapi nggak tahu kok cuma sebentar saja difungsikan. Sekarang kondisina sangat memprihatinkan, bangunannya rusak dan hampir roboh,” ungkapnya.

Purnomo menambahkan, dulu banyak warga sekitar, terutama pencinta ikan di Kota Kediri ramai datang dan membeli ikan hias seperti ikan cupang di pasar itu. Sebenarnya warga setempat menyayangkan mangkraknya bangunan pasar yang kini menjadi bangunan tak berfungsi selama hampir dua tahun lebih.

“Saat ini sudah tak difungsikan kembali, karena apa kami sendiri tidak tahu dan kami juga tidak pernah melihat petugas dari dinas terkait yang melakukan perawatan pasar tersebut. Padahal para pecinta ikan hias dahulu sudah mulai mengenal keberadaan pasar tersebut,” imbuhnya.

Bangunan yang diperkirakan sudah menghabiskan anggaran puluhan juta rupiah untuk pembuatan pasar benih ikan, terkesan percuma. Hampir dua tahun tak digunakan dan tak dirawat bangunan tersebut kini hampir roboh.

Pihaknya juga sangat menyayangkan mangkraknya bangunan tersebut. Sebab dinas terkait justru terkesan tak pernah melakukan perawatan ataupun memfungsikan kembali sebagaimana tujuan bangunan tersebut dibangun agar bermanfaat. “Kalau tahu seperti ini jadinya, lebih baik dikelola kelurahan saja dan bisa digunakan warga setempat, entah nantinya untuk apa, yang penting berfungsi dan bermanfaat,” pungkasnya.

Di lain tempat Kepala Dinas Pertanian Kota Kediri Ir. Haris Candra Purnama, MM, menjelaskan bahwa pasar benih ikan tersebut di kontrak petani ikan dari 2012 sampai akhir November 2014, kemudian 2013 awal terkena bencana kelud sehingga akhirnya dia tidak mengoperasikan. “Pada saat itu dikatakan mangkrak karena tidak dioperasikan, tetapi dalam kondisi masih di kontrak” Ucap Haris. (B@M) 

Keterangan Gambar: Kondisi pasar benih ikan milik Pemkot Kediri yang kondisinya nampak rusak dan hampir roboh karena tidak terawat.

Terminal Lama Kelampok Memprihatinkan, Kondisi tak Terawat dan Fungsinya Berubah

Written By Hapraindonesia on 10/16/2014 | 18:37

KEDIRI, hapraindonesia.co - Bangunan Terminal Lama Kelampok yang terletak di Dusun Kwangkalan, Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, kondisinya sangat memprihatinkan. Bangunan untuk terminal mikrolet tersebut ditengarai tidak berfungsi sebagaimana rencana dan sia-sia, Bahkan sekarang terlihat rusak parah, dan kumuh.

Sebagian besar dari struktur bangunan terlihat rusak, seperti atap bocor, pintu-pintu kantor dan kamar mandi rusak, kaca-kaca jendela pecah, kamar mandi tidak digunakan, dan lantai sekitar terminal retak-retak. Ironisnya, instansi pemerintah yang mengurus terminal (Dishupkominfo) seakan tutup mata.

Menurut sumber Hapra Indonesia, Kamani (46) yang tinggal di area Terminal sejak Tahun 1990, mengatakan kalau bangunan tersebut sudah 15 tahun tidak pernah dirawat sama sekali. Namun, para pedagang di tempat itu setiap bulan masih tetap dimintai retribusi.

“Sudah sejak limabelas tahun bangunan Terminal Kelampok ini tidak dirawat ataupun diurus oleh instansi pemerintah yang menangani terminal di Kota Kediri. Padahal setiap bulannya selalu ada petugas terminal yang datang untuk mengambil retribusi sebagai hasil terminal dan retribusi dari penjual yang berjualan di area terminal,” ungkapnya.

Kamani mengaku sudah seringkali melapor ke dinas terkait (Dishubkominfo) tentang kondisi terminal yang sudah rusak dan butuh perawatan, dari jaman Kepala Dinas Perhubungan dijabat oleh Bambang Basuki Hanugrah, sampai ganti kesekianan kalinya, tetapi tidak ada tanggapan dari dinas tersebut.

Terminal yang seharusnya menjadi tempat transit karena adanya pertemuan antar penumpang dengan pengemudi itu ternyata tidak sepenuhnya berfungsi sebagaimana mestinya, tetapi malah dijadikan tempat parkir truk gandeng oleh warga sekitar. Saat wartawan Hapra Indonesia menanyakan apa boleh truck warga parkir di area terminal?, Kamani pun menjawab dengan logat Jawa kentalnya “yo ngesak ne to dari pada nggone nganggur, wong sopire sing parkir trek yo wong kene kabeh” (ya kasian mas, dari pada tempatnya tidak terpakai, apalagi para sopir yang memarkir truck adalah warga sini semua).

Dari pantauan Hapra Indonesia, Minggu (24/09/2014) kondisi di area terminal memang sangat memprihatinkan, banyaknya pembatas jalan sudah rusak, jalan area terminal yang mulanya beraspal, kini sudah tertutup pasir tebal, bahkan papan penunjuk jalan juga sudah tidak ada.

Masih menurut Kamani, baru-baru ini dinas terminal sudah sedikit-sedikit melakukan renovasi, dan harapannya bangunan terminal tersebut dibangun lagi selayaknya terminal pada mestinya serta bisa difungsikan sebagaimana tujuan bangunan ini dibangun.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informasi Kota Kediri, M. Ferry Djatmiko, S.Sos, MSi, melalui Masnun, bagian KPUT terminal Kota Kediri, menegaskan bahwa sudah beberapa kali di upayakan pengajuan ke dinas PU (pekerjaan umum), tetapi baru tahun 2014 ini di Acc oleh dinas terkait. “Nanti kalao terminal sebelah selatan sudah selesai di rehab, di lanjut lagi bagian terminal yang sebelas utaranya, kita rehabnya bertahab mas ” Ucap Masnun.

“kalao masalah truck yang parkir di area terminal memang tidak boleh, tetapi dikarenakan yang parkir warga sekitar, dan kita menghindari bentrok dengan warga. Soalnya dulu warga juga yang membantu menguruk badan jalan terminal” Pungkas Masnun.

Dan sewaktu Hapra Indonesia menanyakan kepada Kadishubkominfo, Ferry Djatmiko selama 15 tahun ini kenapa terminal kelampok baru di rehab? Dengan nada bercanda Ferry menjawab, “Mungkin pejabat yang dulu – dulu lebih banyak yang di urusin” Pungkasnya. (B@M) 

Keterangan Foto: Kondisi Terminal Kelampok dan Kamani penjaga Terminal yang Sedang Membersihkan Pasir Sendirian

Pak Dhe Karwo Mendapat Penghargaan Karya Wira Bhakti Kerta Raharja dari Paglima TNI

Written By Hapraindonesia on 9/25/2014 | 18:01

Kediri, Hapraindonesia.co - Gubernur Jawa Timur Soekarwo (Pakde Karwo) mendapat penghargaan Karya Wira Bhakti Kerta Raharja dari Paglima TNI Jenderal Moeldoko, karena dianggap sebagai pelopor kerjasama Pemprov Jatim dengan Kodam V Brawijaya tentang pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH) warga miskin di Jatim sejak tahun 2009 – 2013.

Penghargaan diserahkan saat Pencanangan Bakti Renovasi TNI RTLH Kerjasama dengan KODAM V Brawijaya Tahap X tahun 2014 di Lapangan Desa Bogo, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Kamis (25/9).

Dalam sambutannya Pakde Karwo mencanangkan merenovasi sekitar 7.660 rumah tidak layak huni (RTLH) di beberapa Kabupaten Kota se-jatim. Renovasi RTLH merupakan agenda tahunan yang dimulai sejak tahun 2009, dan saat ini memasuki tahap ke X.

Pada awalnya terdapat 253.439 RTLH di Jatim. Sampai dengan tahun 2013 telah direnovasi sebanyak 71.549 rumah. Apabila program berjalan dengan lancar maka pada akhir program telah terselesaikan 79.209 rumah.

“Secara keseluruhan 31 persen RTLH yang telah direnovasi oleh Pemprov Jatim. Diharapkan 2019 RTLH akan tuntas direnovasi,” tuturnya. Panglima TNI Jenderal Moeldoko memberikan apresiasi kepada Pemprov Jatim yang memberikan kesempatan kepada TNI untuk meningkatkan hubungan dengan masyarakat melaui program rehabilitasi RTLH.

“Kegiatan ini merupakan wadah TNI untuk berinteraksi sosial dengan masyarakat, sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara TNI dan masyarakat,” ujarnya.

Panglima mengatakan, akan dikerahkan sekitar 500 ribu TNI untuk membantu Pemprov Jatim menciptakan masyarakat yang sejahtera. “Hal tersebut mewujudkan kehebatan TNI. Bukan hanya menjaga Negara agar aman dari bahaya luar, akan tetapi juga ikut membantu Pemerintah untuk mensejahterakan masyarakatnya, “ tegasnya.(B@M)

Keterangan Foto : Piagam Penghargaan Dari Panglima TNI Jenderal Moeldoko

Jengkel Jembatan Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Tanami Pohon Pinang dan Pisang

Written By Hapraindonesia on 9/14/2014 | 18:31

Kediri, hapraindonesia.co - Lantaran jengkel, jembatan di Desa/Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri tak kunjung di perbaiki oleh pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Kediri, Jumat (12/9), warga setempat menanami jembatan tersebut dengan pohon pinang dan pisang.

Upaya tersebut, dilakukan lantaran untuk mengantisipasi kecelakaan, pasalnya jembatan tersebut bolong dan sebagian ruas badan jembatan rusak.

Budi, (45), warga setempat menuturkan, jembatan Desa Purwoasri merupakan sebagai jalan alternatif penghubung dua kecamatan antara Kecamatan Kunjang dan Plemahan. Menurutnya jembatan yang rusak hampir 1 tahun lebih belum pernah mendapat perhatian darim pihak Pemerintah Daerah. “ Jembatan ini menghubungkan beberada di desa wilayah Purwoasri. Dulu pernah sampai keluar besinya dan setelah itu kami beri tanah untuk menetupinya, “ ungkapnya, Sabtu (13/9).

Hal serupa juga dikatakan oleh, Suyono, (39) akibat jembatan rusak itu, diduga disebabkan oleh Truck muatan pasir yang sering melintas di jalan tersebut. Sementara itu, dia berharap dari pihak Pemerintah Kabupaten Kediri segera memperbaiki jembatan tersebut. Pasalnya, jembatan yang sudah lama rusak dekat Kantor Kecamatan Purwoasri sering membahayakan pengguna jalan. “ Kalau malam Truck muatan sering lewat sini. Belum ada 1 bulan ada pengendara jatuh tapi tidak sampai masuk kesungai, “ terangn ya.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkab Kediri M Haris Setiawan menuturkan, jembatan yang rusak di Desa Purwoasri pihak segera akan melakukan koordinasi dengan PU. Tak hanya itu dia juga akan berkoordinasi dengan Dishub Kabupaten Kediri untuk melakukan razia Dump Truck yang melanggar muatan berlebihan.

“ Dari Dinas PU didampingi petugas Kecamatan dan perangkat Desa kemarin melakukan survey. Dan itu akan kami rapatkan dengan warga untuk memperbaikinya. Menurut warga, jembatan rusak itu kan sering dilewatinya Truck muatan pasir, jadi kami akan koordinasi dengan Dishub untuk melakukan operasi muatan yang melebihi volume muatan, “ ujar Kabag Humas Pemkab Kediri, Minggu (14/9).(Dt/B@)

Foto : Badan Jembatan Purwoasri yang rusak

SLG Semakin Tidak Terawat dan Kumuh

Written By Hapraindonesia on 7/13/2014 | 14:46

SLG 
Kediri, Hapraindonesia.co - Icon utama yang menjadi kebanggaan Pemkab Kediri, selain Gunung Kelud adalah monumen SLG (Simpang Lima Gumul). Bangunan yang berdiri megah di tengah-tengah Simpang Lima Gumul yang menjadi tiang pancang pengembangan area itu disulap sebagai kota baru di Kabupaten Kediri dan berposisikan tepat di tengah jalur lima jalan arah Pare, Kediri, Plosoklaten, Pesantren dan Menang.

Salah Satu ikon Kabupaten Kediri, Simpang Lima Gumul (SLG) yang bangunannya memiliki luas 804 meter persegi, ditumpu 3 tangga 3 meter dari dasar pura, dan tinggi 25 meter. Secara keseluruhan seluas 37 Ha, dibangun menggunakan APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kabupaten Kediri mencapai milyaran rupiah. Namun sayangnya kondisi bangunan itu juga sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak? Proyek yang dibangun dengan sistem multiyears atau tahunan, sejak 2003 itu sekarang sudah kurang perhatian (tidak tarawat).

Pasalnya, semakin banyak dinding ba-ngunan yang sudah berlubang, tembok-tembok di bagian terowongan tampak coret-coretan dari tangan jahil pengunjung. Begitu pula dengan kondisi relief-relief yang menghiasi monumen tersebut tampak sudah mulai berkelupas, serta plafonnya berlumut dan bocor. Sehingga jika turun hujan air masuk di lantai jalan terowongan. Bangunan yang digadang-gadang sebagai ikon Kabupaten Kediri ini, sampai detik ini belum ada perbaikan dari pihak Pemerintah Kabupaten Kediri. Sungguh sangat disayangkan, bangunan yang bersumber dari APBD hingga milyaran rupiah itu sekarang dalam keadaan memprihatinkan.

Sebagai salah satu obyek wisata dan icon Kabupaten Kediri, Monumen SLG seharusnya mendapat perhatian khusus dari pemerintah setempat, karena setiap hari libur, monumen ini tidak pernah sepi pengunjung dari dalam Kabupaten / Kota Kediri, atau bahkan Pengunjung luar daerah. Tapi entah kenapa Pemerintah Kabupaten Kediri seolah tutup mata dengan keadaan monumen SLG yang sekarang.

Salah seorang pengunjung monumen Simpang Lima Gumul dari Surabaya yang ditemui Hapra Indonesia saat berfoto bersama keluarganya, mengaku sebenarnya dia takut akan kejatuhan atap monumen yang rapuh itu, tetapi karena mumpung berada disitu, sehingga tidak mau melewatkan moment untuk mengabadikannya bersama keluarga.

“Sebenarnya saya khawatir dengan kondisi bangu-nan yang terlihat rapuh dan banyak atap jebol begini. Tetapi mumpung saya kesini dengan keluarga, ya sekalian kami gunakan untuk berfoto mas,” ucapnya. Sementara itu, Plt Kabag Humas Pemkab Kediri Edi Purwanto, SH, hingga berita ini naik cetak belum dapat dikonfirmasi. (B@m)

Banyak Atap Bocor & Plafon Rusak, Pemkab Kediri “Tutup Mata”

Convention Hall
KEDIRI, Hapraindonesia.co - Convention Hall yang bangunannya sepintas tampak super megah berdiri di kawasan CBD (Central Business District), di samping Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) yang juga masuk daftar salah satu icon Kabupeten Kediri (selain Gunung Kelud, red) tersebut apabila diamati dari dekat, ternyata terlihat dibangun hanya asal-asalan saja.

Sungguh disayangkan, meski bangunan tersebut masih beberapa tahun saja, namun saat ini sudah banyak yang rusak dan amburadul. Dari pentauan Hapra Indonesia sejak beberapa bu-lan lalu sampai saat ini belum ada perbaikan. Malah banyak atap-atap bocor, dan plafon yang semakin rusak akibat terkena air hujan. Bahkan mayoritas dindingnya juga sudah berlumutan, sehingga terlihatan kotor dan kumuh.

Jika melihat kondisi bangunan yang seperti saat ini seolah-olah secara tidak sadar uang rakyat dihambur-hamburkan untuk pemanfaatan yang tidak jelas maksud dan tujuannya. Dimana untungnya warga Kabupaten Kediri oleh berdirinya bangunan super megah tersebut, jika sebenarnya kalau boleh jujur, masih banyak sarana dan prasarana lainnya yang seharusnya lebih diprioritaskan, dan lebih bermanfaat untuk masyarakat Kabupaten Kediri.

Salah seorang aktivis LSM di Kabupaten Kediri kepada Hapra Indonesia mengaku sangat prihatin terhadap kondisi bangunan monumen SLG dan Convention Hall tersebut. Dia juga mempertanyakan sebenarnya bagaimana rencana pembangunannya dahulu.

“Anehnya, kenapa dahulu DPRD Kabupaten Kediri juga terkesan dengan mudah memberikan persetujuan anggaran untuk proyek tersebut. Padahal dalam proses pembangunannya sendiri juga menuai banyak pro kontra, tetapi bangunan tetap dilaksanakan beralasan untuk kepentingan rakyat. Tetapi dari berdirinya bangunan sampai sekarang tidak tampak ada manfaatnya bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut pantauan Hapra Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kediri seolah tutup mata melihat kondisi bangunan yang amburadul itu, dan terkesan hanya tersenyum lega melihat banyaknya pengunjung yang berfoto ria tanpa menyadari bahaya apabila bangunan megah itu roboh mengenai mereka. Logikanya, jika Pemkab Kediri bisa membangun, seharusnya juga harus bisa merawatnya.

Sementara itu, Plt Kabag Humas Pemkab Kediri Edi Purwanto, SH, hingga berita ini naik cetak belum dapat dikonfirmasi. (B@m)

Pembangunan Desa Terancam Mandeg

Written By Hapraindonesia on 7/07/2014 | 13:59

Teguh Setyobudi
TUBAN, Hapraindonesia.co - 41 desa se Kabupaten Tuban terancam tidak mendapatkan bantuan Alokasi Dana Desa (ADD) tahun anggaran 2014. Karena penggunaan dana ADD tahun 2013, hingga saat ini belum dilaporkan ke Pemkab Tuban.

Kabag Humas dan Media Pemkab Tuban, Teguh Setyobudi saat dikonfirmasi menjelaskan (9/7/2014), bahwa 41 desa tersebut belum menyampaikan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) penggunaan ADD tahun 2013. “Salah satu syarat untuk memperoleh bantuan itu adalah desa yang bersangkutan harus menyelesaikan LPJ tahun sebelumnya. Apabila hal itu tidak dilakukan maka desa itu dipastikan tidak akan mendapatkan bantuan untuk tahun ini,” jelas Teguh.

Pemerintah Desa (Pemdes) belum menyampaikan LPJ disebabkan beberapa faktor. Di antaranya pekerjaan fisik belum diselesaikan. Ada juga karena kehabisan dana untuk LPJ. Sebenarnya Pemkab Tuban melalui instansi terkait sudah melakukan upaya agar desa melaporkan da-na yang digunakanya. Namun ternyata masih ada saja Pemdes yang belum menyelesaikan tanggungjawabnya.

“Yang jelas semua kemablinya pada kinerja desa yang bersangkutan. Pemkab sudah menagihnya lewat Kecamatan masing-masing. Tahun 2014 desa yang bisa diproses ADD-nya adalah desa yang sudah menyelesaikan LPJ tahun 2013,” sambungnya. Sementara itu di terpisah, anggota Komisi A DPRD Tuban, Abu Cholifah mendesak Pemkab harus segera mengambil tindakan terhadap desa-desa yang nakal belum membuat LPJ bantuan ADD tahun 2013. Peraturan yang ada harus diterapkan dengan tegas, sebab bila hal itu dibiarkan akan mengganggu sistem pemerintahan.

“Harus ada sanksi yang tegas terhadap desa yang membangkang membuat LPJ ADD itu, agar tidak ditiru oleh desa lain bila tidak ada sanksinya. Gimana daerah kita ini bisa maju, kalau sistem pemerintahan yang ada di bawah tidak berjalan sesuai aturan yang ada,” kecam Abu Cholifah.

Seperti diberitakan sebelumnya, ada 41 desa dengan rincian Kecamatan Kenduruan ada 3 desa, Kecamatan Bancar ada 3 desa, Kecamatan Tambakboyo ada 10 desa, Kecamatan Singgahan ada 8 desa, Kecamatan Kerek ada 3 desa, Kecamatan Soko ada 6 desa. Sedangkan Kecamatan Jenu dan Kecamatan Semanding masing-masing ada 1 desa, Kecamatan Widang ada 2 desa dan Kecamatan Grabagan ada 4 desa. (St/Rus)

Penutupan Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke 92 Tahun 2014 Di Jatim

Written By Hapraindonesia on 6/10/2014 | 16:22

Mojokerto,Hapra Indonesia.co - TMMD merupakan program terpadu lintas sektoral antara TNI, kementrian/lembaga Pemerintah non Kementrian dan Pemerintah Daerah serta komponen bangsa lainnya. Program ini disusun dengan menganut sistem dari bawah keatas (Bottom Up Planning) karena proses perencanaannya selalu diawali dengan melibatkan berbagai instansi dan masyarakat, dengan demikian merupakan berminan dari aspirasi dan kepentingan masyarakat di daerah pedesaan.

Kegiatan TMMD difokuskan pada dua sasaran yaitu sasaran fisik dan non fisik. Sasaran fisik terutama pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana fasilitas umum lainnya yang menjadi kebutuhan masyarakat didaerah yang mempunyai dampak pengungkit dan pendorong tumbuhnya perekonomian di desa atau daerah terpencil misalnya membuat Jamban keluarga, saluran irigasi, rehab.

Masjid dan Musholla, Pengadaan Buku, dan bantuan kambing. Sedangkan sasaran kegiatan nonfisik diarahkan untuk mendorong tumbuhnya pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap kondisi sosial misalnya memberi penyuluhan tentang pembinaan Administrasi PKK, narkoba, KDRT dan lain lain.

“Satu bulan lagi tepatnya tanggal 9 Juli 2014 kita Bangsa Indonesia akan menyelenggarakan hajat nasional Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, saat itu merupakan momen penting dalam kehidupan bernegara karena rakyat Indonesia akan memilih calon pemimpin yang akan menentukan arah dan masa depan negeri ini menuju bangsa yang lebih maju, sejahtera dan bermartabat”, ungkap Kepala Bakorwil II Bojonegoro yang mewakili Gubernur Jawa Timur dalam sambutan penutupan TMMD di lapangan Desa/ Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto, Selasa 10 Juni 2014.

“Dengan mengucap Alhamdulillahirohmanirrohim, pada hari ini selasa tanggal 10 Juni 2014 program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke – 92 di lima kabupaten Mojokerto, Ponorogo, Kediri, Banyuwangi dan Gresik secara resmi saya nyatakan selesai dan ditutup”, tambahnya.

Dan acara dilanjutkan penandatanganan prasasti oleh Wakil Bupati dan Dandim 0815 Mojokerto yang disaksikan oleh Kepala Bakorwil II Bojonegoro dan penyerahan bantuan dari Pangdam V Brawijaya berupa tehnologi tepat guna (TTG) kepada perwakilan kelompok tani Desa Berat kulon Kec. Kemlagi Kabupaten Mojokerto. Acara ditutup dengan doa dan dilanjutkan dengan tarian Remo dari SDN Betro Kecamatan Kemlagi dan peninjauan lokasi TMMD di Desa Berat Kulon Kecamatan Kemlagi.(Taurus)

Warga Bisa Menuntut Pemkab Tulungagung jika terjadi kecelakaan akibat jalan rusak


Tulungagung,Hapra Indonesia.co - Jalanan yang berlubang yang menjadi buntut dari lamanya tidak dilakukan perbaikan dan perawatan mengakibatkan sejumlah pengendara menjadi korban karenanya, hal tersebut sudah biasa di wilayah Tulungagung.

Tercatat sudah sering kali terjadi kecelakaan yang diakibatkan dari ‘pembiaran’ jalan berlubang. Dan yang paling miris adalah salah satunya kecelakaan yang terjadi di Desa Pagersari Kecamatan Kalidawir hingga mengakibatkan korban meninggal dunia, terjadi antara pelajar sekolah yang mengendarai sepeda motor Saiful dan Firdaus dengan Robiyah, karena menghindari jalan yang berlubang hingga akhirnya bersenggolan, naas nyawa Robiyah tak terselamatkan karena benturan di kepalanya.

Kepala PU Tulungagung, Sutrisno ketika di konfirmasi melalui pesan singkat ke ponselnya tidak dijawab. Perlu diketahui, sebagai warga negara, pengguna jalan bisa menuntut para penyelenggara jalan jika terjadi kecelakaan akibat jalan rusak. Dalam hal ini Pemerintah Daerah Kabupaten Tulungagung. Sebagaimana terdapat dalam pasal 24 ayat 1 UU No 22 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang menyatakan penyelenggara jalan wajib segera dan patut untuk memperbaiki jalan yang rusak yang dapat mengakibatkan kecelakaan lalu lintas.

Kalau penyelenggara jalan tidak memasang tanda pada jalan rusak, maka ketentuan pidana atas pelanggaran Pasal 24 ayat (2) diatur dalam Pasal 273 ayat (4) sehingga penyelenggara jalan terancam pidana penjara paling lama 6 bulan atau denda paling banyak Rp 1,5 juta.Jika penyelenggara jalan tidak segera memperbaiki kerusakan dan mengakibatkan munculnya korban, maka akan ada ancaman sanksi pidana. Jika korban mengalami luka ringan dan/atau kerusakan kendaraan ancaman hukumannya adalah paling lama 6 bulan penjara atau denda paling banyak Rp 12 juta. Sementara jika korban mengalami luka berat, maka penyelenggara jalan bisa terancam pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp 24 juta. Dan jika korban sampai meninggal dunia, maka penyelenggara terancam penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 120 juta.

Hal ini tertera dalam Pasal 273, yang menyiratkan bahwa korban meninggal atau yang mengalami kerusakan motbor atau mobil masih bisa menuntut penyelenggara jalan secara perdata dengan dasar perbuatan melawan hukum.Selanjutnya, jalan umum sebagai sarana penghubung lalu lintas dibagi menjadi jalan nasional, jalan provinsi, jalan, kabupaten, jalan kota, dan jalan desa (Pasal 9 ayat [1] UU 38/2004).

Kewenangan penyelenggaraan jalan dibagi sesuai kewenangannya masing-masing yaitu: a. Pemerintah pusat berwenang menyelenggarakan jalan nasional b. Pemerintah provinsi berwenang menyelenggarakan jalan provinsi c. Pemerintah kabupaten berwenang menyelenggarakan jalan kabupaten dan jalan desa. d. Pemerintah kota berwenang menyelenggarakan jalan kota. 3 Tahun lebih tanpa ada perbaikan, mengakibatkan jalan kabupaten menjadi rusak parah merata hampir diseluruh Kabupaten Tulungagung, Siapakah yang perlu dipersalahkan. (Tim)

Sambangi Desa Kembangringgit Kecamatan Puri

Written By Hapraindonesia on 6/09/2014 | 17:27

Mojokerto, Hapra Indonesia.co - Program pemerintah Kabupaten Mojokerto yang bertajuk “sambang desa” adalah sebuah bentuk perhatian pemimpin kepada rakyatnya. Program ini menyentuh masyarakat dari berbagai lapisan serta manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Seperti sambang desa di desa Kembangringgit Kecamatan Pungging Senin 09 Juni 2014.

Pada kunjungan ini, Mustofa selain memberikan berbagai bantuan, dia juga bercengkerama dengan masyarakat. Tak jarang Bupati termuda di Kabupaten Mojokerto ini juga bercanda dengan masyarakat sehingga yang hadir pun sangat antusias mengikuti acara ini dari awal hingga akhir. Masyarakat Kembangringgit menginginkan agar jalan di desanya diperbaiki karena rawan banjir.

Untuk itu, Mustofa pun menjanjikan perbaikan jalan desa tidak menggunakan hotmix seperti pada umumnya namun menggunakan beton agar lebih awet. Kepala Desa Kembangringgit, Wiyanto pun menyampaikan bahwa jalan-jalan lingkungan di desa Kembangringgit memang sangat membutuhkan perhatian serius dari Pemerintah. Desa Kembangringgit mendapat bantuan keuangan untuk pembangunan infrastruktur desa sebesar 400 juta. Dan total bantuan yang dikucurkan untuk desa Kembangringgit sebesar 631 juta.

“Saya ingin anggaran untuk desa langsung turun ke desa dari mulai perencanaan hingga pembangunan dan pengawasan, semua dikerjakan oleh desa.” ujar Mustofa mengenai program-program pemerintah Kabupaten Mojokerto yang dianggarkan untuk 304 desa pada tahun depan.

Hal ini dimaksudkan karena desa itu sendiri yang mengerti kebutuhannya apa serta tentunya masyarakat juga akan ikut mengawasi pembangunan tersebut. Pada tahun ini, Mustofa juga mengadakan program pemberian kain batik, kain celana serta ongkos jahitnya untuk perangkat desa dan BPD.

Untuk melestarikan kebudayaan tradisional wayang kulit yang semakin tenggelam, Pemerintah Kabupaten Mojokerto mengadakan pagelaran wayang kulit di setiap sambang desa. Dan kemarin, Ki Dalang Romo Sugilar Gondo Pawono menyemarakkan masyarakat Kembangringgit yang digelar di lapangan desa. (Zenny)

Kegiatan TMMD Berdampak Positif Bagi Pemerintahan Kabupaten Mojokerto

Written By Hapraindonesia on 6/05/2014 | 15:51

Mojokerto,Hapra Indonesia.co -Bertempat di Pringgitan Pemkab Mojokerto, Kamis (5/6), Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa , Sekda, Danrem 082 Mojokerto, Waaster KASDAM V Brawijaya, Komandan KODIM 0815 Mojokerto, FORPIMDA Kabupaten Mojokerto beserta Kepala SKPD dan Camat menerima kehadiran rombongan Waaster Panglima TNI Brigadir Jenderal TNI (Satuan Marinir) Sturman Panjaitan Beserta TIM Pengawasan dan Evaluasi Pusat Mabes TNI .

Sebagai sebagai ucapan terima kasih atas kehadiran, Bupati mengajak Rombongan beserta TIM Menikmati sajian sarapan pagi bersama sebelum acara dimulai.

Dalam sambutannya Bupati mengatakan bahwa kegiatan TMMD ini berdampak positif bagi Pemerintahan Kabupaten Mojokerto dari segala aspek Pembangunan di wilayah-wilayah Kabupaten Mojokerto, “oleh kami sampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada TNI yang bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Mojokerto dalam kegiatan TMMD ke -92 di desa BeratKulon Kecamatan Kemlagi semoga kegiatan ini berjalan berkelanjutan baik kegiatan TMMD reguler maupun Imbangan,” Ujar Bupati.

Adapun sasaran kegiatan TMMD ke -92 Tahun 2014 ini berupa Pembangunan FISIK yaitu Pembuatan Jamban keluarga sebanyak 10 Unit, SPAL Keluarga 20 Unit, rehabilitasi Masjid dan Musholla, Pembangunan Plengsengan dan Pavingisasi di SDN Beratkulon.Selain bantuan diatas tersebut ada pula sasaran bantuan berupa Penanaman bibit sengon sebanyak 1000 , Bibit Mahoni 1000 buah dan bantuan ternak berupa Kambing sebanyak 20 ekor.

Sedangkan kegiatan NON FISIK berupa penyuluhan dari BPP dan KB, Dinas Pendapatan, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Dinas Perijinan, Dinas Pertanian,Dinas Perikanan dan Peternakan, TIM penggerak PKK serta dari Kantor Kementrian Agama.

Harapan kedepan untuk kegiatan TMMD ini lebih dapat dioptimalkan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang dinamis dan merata di segala bidang yang sesuai rencana lancar terkendali.(Zenny/Putra).

Hujan Mengguyur, Masyarakat Tetap Antusia

Written By Hapraindonesia on 5/13/2014 | 00:18

Bupati Berdialog Dengan Masyarakat
Malang, Hapra Indonesia.co - Guyuran hujan yang turun di Desa Urek-Urek Kecamatan Gondanglegi yang kali ini dijadikan jujugan lokasi Bina Desa tak menyurutkan animo masyarakat untuk hadir dalam dialog bersama Bupati Malang yang digelar di Halaman SDN Urek-urek II hari ini, Selasa (13/5) Kesempatan untuk bertemu orang nomor I di Kabupaten Malang ini benar-benar dimanfaatkan masyarakat untuk berdialog dan juga menyampaikan aspirasi dan keinginan masyarakat untuk desanya.

Dalam sambutannya Bung Rendra mengatakan, Inti dari bindes adalah menciptakan jalinan silaturahmi terutama antara masyarakat dengan pejabat.” Mengingat silaturahmi banyak manfaatnya. Tidak kalah pentingnya dari sisi keagamaan, memperpanjang umur kita, mempermudah rizki. Kalau rakyat dan pejabat dekat maka tidak ada lagi pemisah, sehingga apa yang dinginkan masyarakat atau aspirasinya bisa segera terprogramkan untuk kemudian bisa segera terealisasikan.”

Selama dua hari tinggal di Desa Urek-urek, Bupati berharap akan banyak hal baik yang dapat dilakukan untuk kepentingan dan bisa dirasakan masyarakat secara langsung. “Sampaikan aspirasi kepada kami melalui kepala-kepala dinas, badan dan kantor serta bagian yang menginap dirumah bapak ibu sekalian, agar kami bisa menyusun program-program kedepan. Karena apa yang sudah kita lakukan hari ini adalah juga merupakan aspirasi masyarakat. Karena hakekatnya pembangunan yang kita laksanakan berbasis pada aspirasi masyarakat.”

Pada kesempatan tesebut, berbagai aspirasi masyarakat langsung bisa didengarkar dan di tanggapi Bupati. Seperti halnya aspirasi H. latiful Arif terkait pengaspalan jalan makadam di RT 22 dan 23, karena jalan ini juga merupakan jalan alternatif menuju Desa Sudimoro, akses terdekat ke ibu kota kecamatan. Begitu pula dengan harapan Kepala Sekolah MTS dan MI Mabaul Jati, Drs. Imron Abudurahman untuk pembangunan Balai Desa Urek-urek. Bupati langsung memerintahkan kepada kepala dinas yang membidangi untuk segera bisa mengangarkan pembanguan proyek yang dimaksud.(Ongsai)

Bupati : Pembangunan Yang Sudah Dilaksanakan Agar Dirawa

Written By Hapraindonesia on 4/06/2014 | 12:23

Bupati Meresmikan Jalan, Jembatan, dan Mushola
Malang, Hapra Indonesia,- Peresmian proyek pembangunan tahun anggaran 2013 Pemerintah Kabupaten Malang kembali dilaksanakan oleh Bupati Malang H. Rendra Kresna, Minggu (06/04) kemarin.

Adapun wilayah proyek yang akan diresmikan atau disambangi Bupati adalah meliputi Kecamatan.Gedangan, Sumawe (Sumbermanjingwetan), Bantur dan Pagak.

Beberapa peresmian tesebut diantaranya seperti peresmian proyek rabat beton, jalan hotmix pengaspalan lapen, dreinase (saluran air), jembatan, gedung uptd sekolah dan mushollah. Dalam sambutannya Bupati Malang yang lebih akrab disapa Bung Rendra ini pada setiap kesempatan menyambangi proyek mengatakan bahwa, tujuan pembangunan adalah untuk mensejahterakan rakyat karena dengan jalan yang bagus maka masyarakat akan merasa aman dan nyaman. "Saya berpesan dan berharap kepada masyarakat agar pembangunan-pembangunan yang sudah dilaksanakan dan sudah berjalan kiranya bisa dijaga dan dirawat agar keawetannya bisa terjaga," harap Bung Rendra.

Dijelaskannya, bahwa hasil pembangunan selama tahun 2013 tersebut alokasi dananya berasal dari APBN, APBD Provinsi Jawa Timur dan swadaya yang dilakukan oleh masyarakat maupun oleh pihak swasta. Tentunya, Bung Rendra sangat mengapresiasi pembangunan secara swadaya yang telah dilakukan oleh masyarakat. “Pemkab Malang memiliki keterbatasan dana untuk pembangunan. Mengingat Kabupaten Malang mempunyai wilayah yang sangat luas. Pembangunan secara swadaya seperti ini sangat membantu Pemerintah tentunya,” jelasnya.

Kendati demikian, kata Bung Rendra, Pemkab Malang tetap berkomitmen mengupayakan pembangunan merata di seluruh wilayah. Hal itu sekaligus mengimplementansikan visi misi Madep Manteb, yang telah dicanangkannya. Kegiatan sambang proyek ini dimaksudkan pula untuk menjaring peluang-peluang yang sebenarnya sudah ada pada setiap desa. Setiap desa, harus bisa menggali potensi atau peluang untuk bisa dijadikan produk unggulannya.

“Pemkab. Malang tetap akan memberikan bantuan dalam bentuk pendampingan. Jadi, anggaran tetap diberikan tetapi itu hanya sebagai pendamping untuk memandirikan desa. Dari situ, harapan kedepannya satu desa bisa memiliki satu produk unggulan, bisa berjalan. Sementara hasilnya, tentu kembali kepada desa dan masyarakat tersebut,” terangnya. (Ongsai)
 
Support : Hapra Indonesia
Copyright © 2011. Hapra Indonesia - All Rights Reserved