Latest Post
Showing posts with label Kebudayaan. Show all posts
Showing posts with label Kebudayaan. Show all posts

Jumlah Peserta Festival Kendaraan Hias 2018 Meningkat

Written By Hapraindonesia on 9/03/2018 | 12:42

Foto: Ist
Kediri, hapraindonesia.co - Dinas Kebudayaan Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri, menggelar Festival kendaraan hias tahun 2018 dengan tema "Kerja Bersama Dalam Harmoni",Minggu (2/9/18) siang. Pawai digelar dalam memperingati hari jadi Kota Kediri ke 1139.

Rute kendaraan hias menempuh jarak 23 kilometer, dimulai dari Start Gelanggang Olah Raga (GOR) Jayabaya menuju simpang empat muning, simpang empat kawi kemudian menuju simpang empat semampir Simpang tiga kantor Pos melewati jalan PK.Bangsa dan finish menuju Balaikota di jalan Basuki Rahmat.

Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar mengatakan, pawai mobil hias dari tahun ke tahun selalu kita adakan, untuk tahun ini ada peningkatan jumlah peserta, untuk tahun lalu peserta berjumlah 98 dan tahun ini peserta meningkat menjadi 106 peserta.Dari tahun ke tahun kegiatan pawai mobil hias para peserta semakin lebih kreatif dan semakin semarak.Untuk tontonan bagi masyarakat bahwa ini adalah kerja bersama dalam Harmoni.

"Untuk mempererat antara masyarakat dan Pemerintah daerah, pawai ini sebenarnya munculnya ide dari kopi tahu. Banyak masyarakat yang menanyakan, Pak dulu ada ada pawai mobil hias kenapa sekarang tidak ada.Akhirnya kita mencoba merespon dengan mencoba membuat pawai mobil hias supaya mereka tahu, ada Dinas apa saja yang ikut,ada sekolahan dan juga dunia usaha.Sebenernya untuk mempersatukan, bahwa ekonomi tidak bisa digarap hanya satu pemerintah saja. Pemerintah hanya menstimulan saja, kalau terjamin silaturahmi yang baik tentu kedepannya akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang baik,"jelasnya.

Sementara itu Kepala Disbudparpora Nur Muhyar mengatakan, kita menyelenggarakan pawai mobil hias, tentu ini bermakna masyarakat Kota Kediri ingin menampilkan sesuatu yang bagus, menarik dan inovatif dari kalangan berbagai kalangan di Kota Kediri.Sebanyak 106 peserta mengikuti pawai mobil hias, dan masing masing menampilkan hasil karya individu dan kelompok itu sendiri.

"Berbagai macam bentuk maupun tampilan mobil hias, kita akomodir dengan tema "Kerja Bersama Dalam Harmoni".Untuk kreatifitas anak anak muda kita tidak membatasi berkreasi menampilkan apa saja yang mereka buat untuk disajikan kepada masyarakat.

Lebih lanjut Nur Muhyar mengatakan, kita mengambil rute midel supaya tidak terlalu menjadi kemacetan di dalam Kota, tetapi juga bisa mengakomidir penonton dari seluruh kota Kediri.Sehingga rutenya ada di barat sungai dan timur sungai", pungkasnya.

(Red/Adv)

Lestarikan Budaya Pemkot Kediri Gelar Festival Jaranan

Written By Hapraindonesia on 7/28/2018 | 08:08

(Foto: Dok/HI)
Kediri, hapraindonesia.co - Sudah merupakan agenda tahunan, dalam upaya melestarikan budaya lokal kediri, rangkaian peringatan hari jadi Kota Kediri yang ke 1139, Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri, kembali menggelar Festival Jaranan, bertempat ditaman tirtoyoso, Kota Kediri, Jumat (27/07/2018) Sore.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri Nur Muhyar menjelaskan, kegiatan festival jaranan ini adalah agenda tahunan pemerintah Kota Kediri, sebagai upaya nguri-nguri kebudayaan lokal asli kediri.

Dengan adanya festival jaranan ini diharapkan para penerus, khusnya pemuda Kota Kediri terus melestarikan budaya leluhur, salah satunya kesenian Jaranan.

"Kita melestarikan budaya adiluhung bangsa, karena dengan melestarikan budaya tersebut maka generasi mendatang tetap dapat melihat dan menikmati kesenian asli Kota Kediri khususnya jaranan,” harapnya.

Masih lanjut Nur Muhyar menuturkan, kedepannya pemerintah kota kediri berharap, seniman jaranan senantiasa terus melakukan inovasi sehingga jaranan tetap bisa menarik dan bisa ditonton di segala zaman.

"Kami berharap, kedepan pelaku kesenian jaranan ini tetap eksis dan selalu menarik perhatian masyarakat lokal maupun, nasional bahkan mancanegara. Namun tanpa meninggalkan pakem yang ada ,” harapnya. 

(Adv/Hms)

Upacara Manusuk Sima, Cara Pemkot Kediri Lestarikan Budaya

Written By Hapraindonesia on 7/27/2018 | 20:02

(Foto: Dok/HI)
Kediri, hapraindonesia.co - Setelah sebelumnya, menggelar acara Doa Bersama antar Umat Beragama, lalu santunan ribuan anak yatim piatu, masih dalam rangka peringatan hari jadi Kota Kediri ke-1139 tahun 2018, dengan mengangkat tema “Kerja Bersama Dalam Harmoni” Pemerintah Kota Kediri kembali menggelar Upacara Manusuk Sima, Jumat (27/07/2018) pagi di Taman Tirtoyoso, Kuwak, Kota Kediri.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri Nur Muhyar menuturkan, upacara manusuk sima ini merupakan salah satu momen bersejarah mengenai Kota Kediri. Upacara ini merupakan simbol pemberian tanah bebas pajak dari Kerajaan Mataram kuno yang tertulis dalam Prasasti Kuwak.

Upacara Manusuk Sima ini diawali dengan Kirab Prasasti Kuwak. Prasasti ini berada di dalam sebuah peti khusus. Prasasti yang dibuat pada tahun 879 masehi ini dikeluarkan pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

"Yaitu dimana diceritakan bahwa ada salah satu orang raja yang memberikan sebidang tanah kepada masyarakat Kediri. Nah, itu kemudian menjadi cikal bakal Kota Kediri ini," Jelas Nur Muhyar.

Selain itu, masih lanjut kata Nur Muhyar mengatakan, upacara manusuk sima ini juga sebagai wujud syukur atas anugerah yang dilimpahkan kepada masyarakat Kota Kediri. Selain itu juga menjadi salah satu cara melestarikan budaya sejarah yang dimiliki oleh Kota Kediri.

"Alhamdulillah kita tetap bisa melaksanakan upacara ini untuk menjaga budaya-budaya luhur bangsa kita di tengah kemajuan teknologi dan kehidupan yang serba modern. Harapan besarnya, ini bisa memberi motivasi kepada kita semua karena memiliki tradisi dan sejarah besar," paparnya.

Sementara itu Haji Subagiyo selaku budayawan asli kediri menilai, upacara manusuk sima ini merupakan visualisasi dari sebuah peristiwa yang telah ada di masa lalu. Ia menyamakan ritual ini seperti halnya Soekarno saat membacakan teks proklamasi.

"Ini peragaan dari Sapata Raja, yang memberikan hadiah Sawah Sima seluas empat tapak yang dibebaskan dari pajak negara diserahkan kepada pemerintahan yang ada di Kediri. Pada saat itu yang menjabat di sini adalah Huka Pucatura yang akhirnya menjadi tradisi yang kita uri-uri," kata Haji Subagiyo.

Menurutnya lanjut Haji Subagiyo mengatakan, peristiwa tersebut terjadi sejak pada tahun 879 Masehi atau 801 Tahun Saka.

"Peristiwa tersebut sebagai bentuk perhatian pemerintah pusat untuk menghidupi Persada atau tempat-tempat ibadah pada zaman dahulu" tambah Haji Subagiyo.

(Adv/Hms)

Kesenian Jaranan dan Tari Kota Kediri Goes to TMII

Written By Hapraindonesia on 3/10/2017 | 15:17

Walikota Kediri didampingi Kadisbudparpora ketika memberangkatkan kelompok kesenian yang akan tampil di TMII
Kediri, hapraindonesia.co - ⁠⁠Kota Kediri kembali mendapat kepercayaan untuk tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta dalam acara Gelar Seni Budaya pada 11-12 Maret 2017. Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar atau yang akrab disapa Mas Abu secara langsung memberangkatkan kelompok kesenian yang akan tampil di TMII.

Kelompok kesenian jaranan (Kuda Lumping) dan tari yang akan tampil di TMII diberangkatkan secara simbolis oleh Mas Abu dari Kantor Disbudparpora Kota Kediri, Jum’at (10/3) .

dalam sambutannya Mas Abu menyampaikan bahwa ini adalah kesempatan bagi para seniman Kota Kediri untuk memberikan sebuah ilmu pengetahuan baru kepada seluruh masyarakat indonesia yang berada di TMII. “Ini adalah kesempatan kita. Kesempatan untuk memberi ilmu pengetahuan tentang budaya yang ada di Kota Kediri” ujar Mas Abu di depan puluhan seniman yang akan berangkat ke TMII.


Mas Abu juga memberikan apresiasinya kepada para seniman Kota Kediri yang telah memberikan sumbangsihnya kepada Kota Kediri di bidang kesenian. “Untuk para seniman senior, terimakasih banyak atas sumbangsihnya untuk Kota Kediri. Saya harap nantinya akan tumbuh seniman-seniman baru yang terus bertumbuhkembang dan berjalan kearah yang lebih baik,” ungkap Mas Abu.

Untuk peserta yang pertama kali ikut berpartisipasi dalam gelar budaya, lanjut Mas Abu, tetap semangat dan semoga bisa memberikan penampilan yang terbaik. “Adik-adik yang baru pertama kali ikut gelar budaya ke TMII, jangan demam panggung. Saya titipkan nama baik Kota Kediri pada kalian disana. Tetap semangat dan semoga penampilannya sukses,” pesan Mas Abu. (Adv)

Mestarikan Kesenian Lokal, Pemkot Gelar Tari Kolosal 1000 Topeng Panji

Written By Hapraindonesia on 11/28/2015 | 13:58

Pertunjukan Tari Kolosal 1000 Topeng Panji
Kediri, hapraindonesia.co - Tari Kolosal seribu topeng panji asli Kota Kediri digelar di Stadion Brawijaya Kediri. Pagelaran ini bertujuan untuk melestarikan kesenian asli Kediri yang dikhawatirkan mulai ditinggalkan.

Tari kolosal seribu topeng panji ini dibawakan apik oleh para pelajar muali tingkat SD hingga SMA. Para penari tergabung dalam berbagai sanggar tari di Kota Kediri.

Tak ketinggalan, para bapak dan ibu guru tari juga turut ambil bagian dalam pagelaran ini. Pagelaran tari kolosal seribu topeng panjing ini tampil dalam pembukaan Kediri Ekspo.

Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar mengatakan, panji adalah cerita asli Kediri yang melegenda di Nusantara hingga ke tingkat Internasional. Panji ini merupakan perwujudan dari Panji Inukertopati, cucu dari Raja Kediri Airlangga.

"Panji Inukertopati merupakan cucu Raja Airlangga yang jatuh cinta pada kerabatnya sendiri Dewi Sekartaji. Mereka juga kerabat dari Dewi Kilisuci, seorang dewi yang tersohor di Kediri. Kisah percintaan inilah yang berkembang di masyarakat Kediri. Sehingga menjadi muncul berbagai kesenian seperti tari topeng panji dan juga kesenian jaranan," jelas Mas Abu, panggilan Abdullah Abu Bakar.

Budaya inilah yang kini kembali dimunculkan oleh Pemerintah Kota Kediri. Tujuannya untuk mengedukasi para masyarakat adanya cerita panji yang kini mulai ditinggalkan. Tarian panji inilah yang akan dijadikan sebagai Tari Khas Kota Kediri.

Walikota Saat Memberi Sambutan Pembukaan Kediri Expo 2015
Pagelaran tari seribu topeng panji ini cukup menarik antusias masyarakat. Lebih dari 500 orang penonton dari semua kalangan hadir untuk menyaksikan langsung.

Ratna Dwi, salah seorang pelajar asal Kota Kediri mengaku, terhibur dan terkesan dengan penampilan para penari. Menurutnya, dengan pagelaran tari topeng seribu panji, ia bisa mengetahui cerita rakyat asli Kediri secara jelas.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Olahraga Kota Kediri, Nur Muhyar mengaku, tari yang mengangkat cerita asli Kediri ini membuat para penari tidak kesulitan dalam persiapannya. Praktis hanya dalam waktu empat hari saja, mereka sudah mampu performa dengan baik.

Untuk diketahui, Kediri Expo sendiri digelar hingga 29 November 2015. Dalam acara tersebut, menampilkan produk-produk UMKM yang diharapkan mampu mengangkat perekonomian di Kota Kediri. (Adv/B@m)

Wabup Mojokerto Letakan Batu Pertama Rumah Mojopahit

Written By Hapraindonesia on 11/26/2014 | 17:46

Mojokerto-, hapraindonesia.co - Trowulan sudah terkenal sebagai situs purbakala kerajaan Majapahit yang berkembang sejak abad ke-13 hingga abad ke-15. Dan kekayaan situs Majapahit adalah bagian dari budaya nusantara yang merupakan aset bangsa yang tak ada duanya.

Untuk itu pemerintah Kabupaten Mojokerto berupaya untuk menjaga, melestarikan dan menghidupkan kembali budaya Majapahit dalam masyarakat. Seperti pada hari Rabu 26 Nopember 2014, Wakil Bupati Mojokerto Dra. Hj. Chairun Nisa’ didampingi kepala Disporabudpar dan kepala desa Bejijong melaksanakan peletakan batu pertama pembangunan rumah Majapahit yang dipusatkan di desa Bejijong Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Turut hadir pula perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jatim, Lembaga Cagar Budaya dan masyarakat yang menjadi subyek pembangunan rumah Majapahit ini.

Kepala Disporabudpar Didik Chusnul Yakin dalam laporannya menjelaskan bahwa maksud dan tujuan pembangunan rumah Majapahit ini adalah untuk pengembangan dan memberikan perlindungan situs Trowulan sebagai cagar budaya nasional. Sedangkan anggaran pembangunannya berasal dari APBD Provinsi Jawa Timur dan sharing APBD Kabupaten Mojokerto.

Rumah Majapahit ini rencananya pada tahun 2014 ini akan dibangun sebanyak 94 rumah di desa Bejijong, 21 rumah di desa Sentonorejo dan 22 rumah di desa Jatipasar dan dana yang dialokasikan untuk kegiatan ini sebesar 74 Milyar.

Semula alokasi dana untuk pembangunan rumah Majapahit ini sebesar 25 juta rupiah per rumah. Namun setelah melalui penghitungan oleh konsultan perencana, setiap rumah ternyata menghabiskan dana sebesar 50-60 juta untuk pembangunan rumah Majapahit ini.

Wakil Bupati Choirun Nisa’ mengatakan bahwa kita seharusnya merasa bangga karena leluhur kita peradapannya sudah maju. “Saya mengharapkan partisipasi masyarakat dalam memelihara dan merawat rumah Majapahit ini sehingga dapat terjaga dalam jangka waktu yang lama” ujarnya. “ Kedepannya rumah Majapahit ini akan kita kembangkan sebagai homestay bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Trowulan” imbuhnya.

Pada Tahun 2015 Pemerintah Provinsi Jawa Timur bahkan sudah menganggarkan kembali pembangunan rumah Majapahit untuk rumah rumah di 3 desa tersebut yang belum mendapat jatah. Pemerintah Kabupaten Mojokerto berharap kedepannya pembangunan rumah Majapahit ini tidak hanya di 3 desa saja tetapi juga seluruh desa di wilayah kecamatan Trowulan. (Taurus) 

Keterangan Gambar : Wakil Bupati Mojokerto Dra.Hj Chairun Nisa Meletakan Batu Pertama Rumah Mojopahit.

Wabup Kediri Buka Festival Kelud 2014

Written By Hapraindonesia on 11/02/2014 | 16:35

Kediri, hapraindonesia.co - Wakil Bupati Kediri H. Masykuri membuka festival kelud, Minggu (2/11) pagi pukul 09.00 di halaman rest area kawasan wisata Gunung Kelud.Dalam acara tersebut tampak hadir juga tamu undangan jajaran Muspida dan pimpinan satuan kerja di Kabupaten Kediri.

Dengan mengambil tema “Merti Kelud, Mamukti Kediri” yang bermakna “Memelihara Kelud untuk Kemuliaan Kediri”, Wabup Kediri H. Masykuri dalam sambutannya menuturkan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini.

“Festival Kelud merupakan agenda tahunan yang difasilitasi oleh Pemerintah Daerah. Mari kita menyongsong kehidupan yang lebih baik. Pasca meletusnya Gunung Kelud lalu, masyarakat lereng kelud kembali beraktifitas dan bangkit, “tutur H. Masykuri.

Masih kata Wabup Kediri, Festival Kelud merupakan sebagai bentuk pelestarian lokal. Maka dari itu peran serta masyarakat dan Pemerintah harus bersinergi untuk menjaga kearifan dan pelesteraian. “mari kita berperan aktif untuk masa depan kita yang lebih baik, “ungkap Wabup.

Dikatakannya, dalam festival Kelud kali ini Wabup juga mengenalkan kopi. Kopi yang dikenal sejak abad 18 ini merupakan hasil sentra terbaik. “Pada dasarnya daerah perkebunan merupakan daerah yang subur, “jelasnya.

Acara Festival Kelud terdiri dari rangkaian kegiatan diantaranya tasyakuran seribu tumpeng, pameran UMKM, pagelaran wayang kulit, kesenian daerah dan Festival kopi dan serta sesaji Kelud.

Wakil Bupati Kediri H. Masykuri usai mengikuti acara tersebut keliling ke stand peserta yang ikut di acara festifal Kelud. (Dt/B@m)

Keterangan Gambar : Wabup Kediri H. Masykuri saat member sambutan.

Ulang Tahun ke-9 PASJAR Kabupaten Kediri Panen Prestasi dan Pencapaian Besar

Written By Hapraindonesia on 10/30/2014 | 12:40


Kediri, hapraindonesia.co - Rabu, 29 Oktober 2014 menjadi hari paling bersejarah bagi Paguyuban Seni jaranan (PASJAR) Kabupaten Kediri. Betapa tidak, pada hari tersebut paguyuban yang mewadahi segenap seniman kesenian Jaranan Kabupaten Kediri itu tengah memperingati hari ulang tahunnya yang ke sembilan.

Wajah-wajah bahagia nan bangga tersirat jelas dari segenap seniman dan seniwati Jaranan yang malam itu hadir untuk menyaksikan acara. Dalam peringatan yang berlangsung meriah dan spektakuler yang dipusatkan di Lapangan Kecamatan Ngadiluwih tersebut tampak banyak tokoh penting yang menyempatkan hadir.

Diantaranya adalah Wakil Bupati Kabupaten Kediri, Dewan Kesenian Kota Kediri (DK3), Paguyuban Jaranan Kota Kediri ‘Wahyu Kridha Budhaya’, Kepala Dinas Pariwisata beserta Staf, Paguyuban Jaranan Nganjuk, Ki Dalang Hardjito sebagai pengurus persatuan dalang, Bapak Suradi (Pengamat seni sekaligus Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kediri), Perwakilan Camat Ngadiluwih, Kepala Desa se-Kecamatan Ngadiluwih, Kapolsek Ngadiluwih, Dan Ramil Ngadiluwih dan banyak tamu serta undangan lain.

Banyaknya tokoh penting yang datang ikut mengapresiasi peringatan hari kelahiran PASJAR memang cukuplah beralasan, dalam usianya yang ke sembilan, dibawah kepemimpinan Bopo Hary Pratondo mampu mengangkat dan menunjukkan kelas Jaranan Kediri sebagai kesenian besar yang sangat luar biasa. Bukan lagi kesenian rakyat pinggiran yang seadanya.

Jaranan telah menjadi kebanggaan masyarakat, bukan hanya masyarakat Kediri tetapi juga masyarakat Jawa Timur dan Indonesia. Dibawah kepemimpinan Hari Pratondo, Jaranan juga menjadi bagian penting festival besar yang digelar setiap tahun secara kolosal dan melibatkan ribuan seniman ‘Festival 1000 Barongan’ adalah bukti nyatanya. Sederetan prestasi berskala provinsi dan nasional juga terus dikoleksi dengan memenangkan berbagai kejuaraan dan pagelaran seni diberbagai kota.

PASJAR telah mampu menorehkan catatan emas bagi upaya pelestarian kesenian agung Jaranan Kediri, Selamat Ulang Tahun PASJAR, Maju Terus untuk Membawa Jaranan ke Pentas Dunia.(Arief)

Wabup Kediri Hadiri HUT PASJAR Ke-9

Kediri, hapraindonesia.co - Wakil Bupati Kediri Drs. H. Masykuri menghadiri Hari Ulang Tahun Paguyuban Seni Jaranan (Pasjar) Kabupaten Kediri ke-9, di lapangan Dusun Rembang Mitiran, Desa Ngreco, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Rabu (29/10) malam.

Mewakili Bupati Kediri Hj Haryanti Sutrisno yang berhalangan hadir, Wakil Bupati Kediri H. Masykuri dalam sambutannya menuturkan, kesenian adalah sebagai wadah hiburan yang bisa mempersatukan dan mempererat tali persaudaraan. Maka dari itu Wabub Kediri menghimbau kepada seluruh masyarakat agar dapat melestarikan kesenian, khusunya kesenian khas Kediri, baik itu seni
tari maupun lainnya.

“Kesenian jaranan ini juga kesenian asli Kediri yang mempunyai makna dan alur cerita. Dari pakaian dan wujud yang dikenakan dan diperankan juga mempunyai karakter sendiri. Mari kita lestarikan budaya khas Kediri ini,” tuturnya.

Ketua Pasjar Kabupaten Kediri, Bopo Hary Prantondo mengatakan, sangat berterima kasih kepada pihak Pemerintah Kabupaten Kediri dan Dinas Kebudayaa dan Pariwisata yang telah mendukung acara HUT Pasjar Kabupaten Kediri ke-9 tersebut.

Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota paguyuban jaranan yang telah hadir dalam acara HUT ini. “Saya sangat bangga kepada seluruh paguyuban seni jaranan ini. Dengan acara terselenggaranya perayaan HUT ini, kita semua bisa berkumpul dan bersatu,“ ungkapnya.

Acara HUT PASJAR Kabupaten Kediri ke-9 yang dimulai sejak pagi hingga malam hari tersebut juga dimeriahkan oleh suguhan tari-tarian group jaranan yang ada di seluruh Kabupaten Kediri, yang tampil di atas pentas secara bergiliran satu per satu.

Dalam acara ini, selain Wabub Kediri, H. Masykuri turud hadir pula di antaranya anggota group Jaranan Kota Kediri Wahyu Kridho Budhoyo, Muspika Ngadiluwih juga tampak duduk di bang-ku tamu undangan.

Malam harinya, Wabup H. Masykuri bersama ketua PASJAR Kabupaten Kediri Bopo Hary Pratondo serta ketua panitia melakukan potong tumpeng bersama.

Tampak tamu undangan yang memadati bangku dan ratusan penonton tampak asyik menyaksikan seni tari-tarian yang disuguhkan dalam acara tersebut seperti tari klosal Dewi Songgolangit, tari jingkrak, Tari Barong, dan Tari Kuda Lumping yang dimainkan oleh anggota PASJAR Kabupaten Kediri. (B@m) 

Keterangan Gambar : Bopo Hari Pratondo Bersama Wakil Bupati Kediri Melakukan Potong Tumpeng

Menengok Penjamasan Pusaka Kerajaan Kediri I Suro

Written By Hapraindonesia on 10/26/2014 | 08:32

Kediri, hapraindonesia.co – Dalam Tradisi masyarakat jawa, bulan suro di anggap sebagai bulan yang suci. Sehingga seringkali digunakan untuk melakukan berbagai macam ritual dan laku kebatinan, salah satunya adalah jamasan pusaka.

Jamasan pusaka pada dasarnya adalah upacara pencucian pusaka.Ritual ini menjadi menarik karena sering kali dikaitkan dengan hal-hal mistik, ghaib ataupun klenik seputar pusaka.Apalagi jika yang dijamas pusaka peninggalan kerajaan.

Inilah yang bisa kita lihat pada acara penjamasan Pusaka Kerajaan Kediri yang dilakukan oleh komunitas Garudha Mukha yang dilaksanakan di kediaman Raden Ngabehi Tono Setyono Bimoseno, di jalan Erlangga Kota Kediri, Pada (25/10) dini hari.

Alunan musik gamelan mengiringi prosesi penjamasan pusakan dan renungan menjelang 1 suro yang di adakan oleh komunitas Garuda Mukha, dan sebelum berlangsung acara jamasan pusaka, ratusan masyarakat diajak untuk melakukan ritual kirim doa kepada para leluhur yang dikemas dalam acara selamatan.

Tidak lupa juga dalam prosesi ini sesajen sebagai pelengkap jamasan pusaka menjadi hal yang sangat wajib.Berbagai sesajen di suguhkan dalam prosesi acara ini hingga menambah suasana penjamasan menjadi sesuatu yang kental dengan mistis. (B@m)

Keterangan Gambar : Raden Ngabehi Tono Setyono Bimoseno Saat Memimpin Jamasan pusaka Dikediamannya.

PASJAR Korcam Semen Gelar Tari Kuda Lumping Dalam Rangka Memperingati 1 Muharam

Written By Hapraindonesia on 10/25/2014 | 18:56

Kediri, hapraindonesia.co - Dalam rangka menyambut tahun baru 1 Muharam atau yang di kenal masyarakat jawa 1 suro, sabtu 25/10, Anggota PASJAR Kabupaten Kediri Korcam Semen menggelar kesenian tari jaranan (Kuda Lumping) satu hari penuh.

Acara yang dirangkai dalam Grebek Suro ini berlangsung di pinggir jalan raya depan kantor kelurahan desa semen. Acara ini menyuguhkan tari-tarian jaranan (kuda lumping), dari anak- anak sampai dewasa dan di ikuti dari semua group jaranan yang berada di wilayah korcam semen.

Acara ini diselenggarakan untuk menyambut tahun baru 1 muharam, dan menyongsong ulang tahun PASJAR Kabupaten Kediri yang ke 9, yang nanti akan diselenggarakan pada rabu 29/10/2014 di Lapangan Ngadiluwih Kabupaten Kediri. (B@m) 

Keterangan Gambar : Aksi Lincah Ganongan Dalam Menghibur Penonton.

Panitia Penyelenggara Acara 1 Suro Menang Tuding Pemkab Kediri Tak Bertanggung Jawab

Kediri, hapraindonesia.co - hapraindonesia.co – Panitia penyelenggara Acara 1 Suro di Petilasan Prabu Sri Aji Joyoboyo Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, menuding pemkab Kediri tidak bertanggungjawab untuk pelestarian budaya daerah.

Pasalnya, tidak sepeserpun anggaran pemkab digulirkan untuk kegiatan tahunan, padahal, Pemkab Kediri sejak lama menarik penghasilan dari retribusi masuk ke kawasan wisata tersebut.

Ketua panitai penyelenggara ritual 1 Suro Situs
Sri Aji Joyoboyo, Gatot Subroto, 65, menuturkan, pihak Pemkab Kediri khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tidak memberi sumbangan dalam bentuk nominal uang. “Acara tahun kemarin, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menyumbang uang sebesar Rp 15 Juta Rupiah, tetapi untuk acara tahun ini hanya menyumbang 11 penari untuk menari tarian Bendoyo Suro, “ ungkapnya.

Demi suksesnya acara tersebut, panitia penyelenggara terpaksa harus mencari dana dari sponsor. Saat ditanya nominal biaya yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan kegiatan tersebut, Gatot enggan menyebutkan nominalnya. “Ya banyak mengeluarkan dana. Karena acara ritual ini yang ada di Indonesia hanya di Desa Menang saja, “ tuturnya.

Dalam upacara ritual 1 Suro di Petilasan Prabu Sri Aji Joyoboyo dan Sendang Tirto Kamandanu merupakan budaya daerah yang perlu di lestarikan. Sebab menurut Gatot, Prabu Sri Aji Joyoboyo yang sudah di kenal dengan Jongko Joyoboyonya dari plosok Nusantara sampai Mancanegara.

Untuk itu, budaya adat ritual upacara 1 Suro patut dilestarikan. “Tentang tata krama di Jawa sangat disegani dari segala penjuru, “jelasnya. Namun, dalam ritual upacara 1 Suro kali ini, pihak Pemkab tidak memberi sumbangan dalam bentuk nominal uang.

Padahal, menurut Gatot retribusi para wisatawan yang masuk ke kawasan wisata hasilnya disetorkan ke Pemkab. “Harusnya Pemkab ikut bertanggung jawab dalam acara pelestarian adat dan budaya. Saya berharap Pemkab di tahun depan memperhatikan acara seperti ini, “ harapnya.

Gatot menuturkan, bukan hanya kegiatan 1 Suro saja yang tidak pernah diperhatikan oleh Pemkab Kediri. Namun fasilitas jalan dan penerangan serta keamanan di kawasan wisata ini juga tidak pernah mendapat perhatian serius. “Jalan menuju ke Sendang Tirto Kamandanu banyak yang rusak, Harusnya jalannya di perbaiki, “ keluhnya.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkab Kediri M. Haris Setiawan mengaku belum mengetahui secara pasti kerjasama antara pihak panitia dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

“Kita belum koordinasi dan saya masih belum tahu. Harusnya fasilitas itu ada. Kan di Desa Menang saat upacara banyak tamu yang datang, “ jelasnnya.

Masih kata Kabag Humas Pemkab Kediri, upacara ritual 1 Suro di Desa Menang, sebelum dibantu oleh Pemkab Kediri, para panitia penyelenggara 1 Suro sudah mendapatkan bantuan dari Paguyuban Pelestari seni dan Budaya Honodento, Yogyakarta.

“Setahu saya sejak dulu acara tersebut dibantu dari Yogyakarta. Ya dari Pemkab juga ikut membantu memberi fasilitas. Karena budaya itu perlu dilestarikan, “pungkasnya.(Dt/B@m)

Keterangan Gambar : Gatot Subroto dan Acara ritual 1 Suro di Petilasan Sri Aji Joyoboyo

Tradisi Lempar Nasi Diyakini Bisa Terhindar Dari Mara Bahaya

Written By Hapraindonesia on 10/11/2014 | 16:16

Kediri, hapraindonesia.co - Tawuran tidak selamanya bermakna negative, seperti halnya tradisi tawarun lempar nasi yang dilakukan oleh warga Desa Blimbing, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Sabtu (11/10) sore sekitar pukul 13.30 WIB, diyakini bisa terhindar dari marabahaya atau tolak balak. Tradisi itu merupakan tradisi yang sudah lama sejak zaman Belanda.

Sebelum prosesi perang nasi ini dimulai. Warga membawa nasi serta sayuran yang dibungkus dengan daun pisang, di bawa di halaman rumah depan Kades Blimbing Agus Dwi Waluyo. Acara tersebut diawali dengan doa yang dipimpin oleh sesepuh desa setempat.

Lalu, usai doa bersama, tampak para pemuda, anak-anak dan bahkan orang tua yang khususnya laki-laki ini langsung memulai acara tersebut yakni lempar nasi. Dalam melakukan aksinya, para warga ini perang saling lempar dan membalas lemparan. Tradisi tawuran saling lempar ini warga sangat antusias dan padfa saat melempar tidak boleh marah.

Mujiono, 56, warga setempat. Tradisi lempar nasi ini sudah ada sejak zaman belanda. Menurutnya, tradisi lempar nasi sempat beralih hanya sekedar selamatan biasa, malah membawa malapetaka. “ Sempat dua tahun tradisi lempar nasi ini tidak dilakukan. Dan selama dua tahun ini banyak kejadian yang aneh seperti orang masuk sungai hingga meninggal dunia dan ada yang gantung diri. Sebelumnya ya tidk terjadi apa-apa, “ ungkap Mujiono.

Kades Desa Blimbing, Agus Dwi Waluyo mengatakan, tradisi lempar nasi ini satu acara tradisional yakni tayuban. Dikatakannya, warga yang mengikuti acara ini tidak diharuskan membawa nasi ini yang terlalu mewah seperti membawa nasi gurih serta lauk pauk. “ Setahu saya tradisi ini sudah 10 turunan. Menurut tradisi yang sudah ada, warga membawa nasi putih dan sayur seadanya, “ jelasnya. Sementara itu, Eriska, 19, pemuda setempat menuturkan, saat terkena lemparan tubuhnya merasa sakit.

Meskipun merasakan sakit, namun dia tetap asyik melakukan ritual tersebut dengan membalas lemparan kepada temannya. “ Ya pastinya sakit ken lemparan. Tapi karena tradisi ini sudah lama ya tidak boleh marah atau mempunyai dendam, “ terangnya. Para ibu-ibu dan warga lainnya menyaksikan acara tersebut. Dan warga yang melihat dipinggir jalan juga sempat dilempari nasi putih. Usai acara tersebut, nasi putih dan daun pisang itu rencananya akan dibuat makan hewan ternak.(Dt)

Keterangan Gambar : Prosesi perang nasi di Desa Blimbing Kecamatan Gurah.

PASJAR Meraih 10 besar Dalam Acara Seni Budaya Specta Night Carnival Jatim 2014

Written By Hapraindonesia on 9/16/2014 | 14:19

Ngawi, HAPRA Indonesia.co – Spektakuler, Parade Seni Budaya Jawa Timur Tahun 2014 Jatim Specta Night Carnival, dasar pelaksanaan Peraturan Gubernur Jatim nomor 85 tahun 2008 tentang Kegiatan Kebudayaan di Jawa Timur, dan Keputusan Gubernur Jawa Timur tgl 31 Desember 2013 tentang Kegiatan Pelaksanaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Propinsi Jawa Timur tahun 2014.

Dalam kesempatan tersebut ikut serta PASJAR (paguyuban seni jaranan) Kabupaten Kediri yang mewakili pemerintah Kabupaten Kediri sangat antusias dalam acara tersebut, pada kesempatan tersebut PASJAR dalam hal ini juga masuk dalam 10 besar pemenang Parade Seni Budaya Specta Night Carnival Jatim 2014. Bopo Hary pratondo selaku Ketua PASJAR merasa senang dengan apa yang sudah di raih, namun semua ini bukan terus menjadikan kesenian khususnya di Kediri merasa ogah-ogahan dengan mengembangkan seni jaranan di Kediri, namun dengan di raihnya juara 6, justru menambah semangat untuk terus mengembangkan kesenian tersebut.

Terpisah Jariyanto selaku Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Propinsi Jawa Timur menyampaikan program kerja serta kegiatan di tahun 2014 dalam rangka peningkatan pembinaan dan pengelolaan kebudayaan di Kabupaten/Kota di jawa Timur. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas dan produktivitas seniman dalam berolah seni pertunjukan berbentuk karnival bercirikan budaya Jawa Timur.

Lanjutnya, event seperti ini juga untuk meningkatkan apresiasi masyarakan terhadap jenis ragam bentuk keunikan dan keindahan kekayaan seni budaya di Jawa Timur, menumbuhkan minat generasi muda untuk lebih mengenal memahami dan menghargai budaya bangsa sendiri, mengembangkan ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya, memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa serta penghargaan terhadap kebhinekaan.

Sementara materi kegiatan meliputi sajian seni arak-arakan (fashion street) kendaraan hias yang menekankan pada artistik, atraktif yang berifat kolosal dengan latar belakang sejarah budaya kesenian rakyat (babad), kesenian yang lahir dari daerah masing-masing yang dianggap spektakuler untuk di pamerkan.

Kabupaten Ngawi selaku tuan rumah event bergengsi ini, Sabtu (13/09/2014), melalui Bupati Ngawi Budi Sulistyono dalam sambutannya menyampaikan kegiatan Parade Seni Budaya Jawa Timur Tahun 2014 Jatim Specta Night Carnival yang diikuti 30 peserta Kabupaten/Kota se Jawa Timur ini siap memamerkan seni dan budayanya masing-masing.

Kini saatnya, lanjut Bupati Ngawi, bukan hanya Jawa Timur yang spektakuler tapi seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Timur menjadi spektakuler khususnya Kabupaten Ngawi. Banyak seniman yang terlibat dengan tampilan kreasi baru, semoga kreasi yang ditampilkan banyak menceritakan munculnya daerah otonom khususnya Kabupaten Ngawi yang diberikan Kerajaan Majapahit 656 tahun silam yang merupakan tonggak sejarah berdirinya Kabupaten Ngawi. Budi Sulistyono juga menyampaikan, Kabupaten Ngawi akan siap mendukung dan siap menjadi tuan rumah untuk kegiatan skala propinsi di tahun-tahun mendatang yang lebih spektakuler.

Dalam acara tersebut juga dilakukan penyerahan piala Presiden RI dalam Pawai Budaya Kreatif saat peringatan HUT RI ke 69 dengan tema Indonesia Bersatu yang digelar di kawasan Medan Merdeka dan Istana Jakarta, pada 18 Agustus lalu untuk Dinas Pariwisata dan Budaya Propinsi Jawa Timur. Jariyanto selaku Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Propinsi Jawa Timur Propinsi Jatim menyerahkan piala tersebut pada Wakil Gubernur Jatim, Syaifullah Yusuf.

Sementara dalam paparannya, Gus Ipul sapaan akrab Wagub Jatim menyampaikan betapa luar biasanya Kabupaten Ngawi. Acara ini untuk pertama kalinya di Jawa Timur mengadakan pawai dan karnaval di malam hari. Kabupaten Ngawi termasuk Kabupaten yang ikut kompetitif, berperan aktif, dan berkontribusi untuk kemajuan Propinsi Jawa Timur.

Gus Ipul sempat kesengsem dengan Batik Khas Ngawi, dengan corak yang alami Batik Ngawi layak Go Internasional. Lebih lanjut, Gus Ipul juga menjelaskan bahwa Propinsi Jawa Timur memiliki keragaman seni dan budaya di Jawa Timur adalah modal kekayaan yang tidak dimiliki propinsi lain.

Karnaval yang menempuh jarak sekita 3 KM itu diikuti Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Magetan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, Kabupaten Jember, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Tuban, Kabupaten Gresik, Kabupaten Jombang, Kota Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya, Kabupaten Sumenep, Kota Blitar, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kota Madiun, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Ngawi.

Sementara penghargaan 10 besar Penyaji Terbaik dalam Parade Seni dan Budaya Jawa Timur 2014 ini diberikan pada Kota Malang, Kabupaten Madiun, Kabupaten Banyuwangi, Kota Surabaya, Kota Blitar, Kabupaten Kediri, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten Ngawi.(Ig/Luh)

PASJAR Kab Kediri Bekerjasama Dengan Pemkab Kediri Gelar Tarian 1000 Barong

Written By Hapraindonesia on 8/16/2014 | 18:07

KEDIRI, HAPRA Indonesia.co - Kesenian pastinya sangat perperan dalam kehidupan di belahan Negara. Melalui kesenian pula suatu daerah tersebut bisa mengangkat nama daerah tersebut.

Kesenian juga bisa berpengaruh dalam berbagai aspek, baik dalam segi ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Sayangnya, kesenian tradisional yang belakangan ini telah ditinggalkan oleh warga masyarakat, khususnya para kawula muda, kini mulai dimunculkan kembali dengan berbagai upaya dan kreasi.

Seperti halnya kesenian kuda lumping atau yang lebih dikenal dengan nama Jaranan, semenjak berdirinya Pasjar (Paguyuban Seni Jaranan) Kabupaten Kediri yang diketuai oleh Bopo Hary Pratondo, saat ini kesenian yang konon asli dari Kediri tersebut kembali mendapatkan perhatian dari masyarakat luas.

Terbukti, ribuan grup kesenian jaranan di wilayah Kabupaten Kediri mulai guyub bermunculan lagi, dan jutaan warga masyarakat dengan antusias selalu memadati pementasan kesenian jaranan dimanapun digelar. Bahkan pada Sabtu (16/8/2014), area Monumen Simpang Lima Gumul telah dibanjiri penonton yang ingin menyaksikan pagelaran akbar 1.000 Barongan. Acara yang dimulai pukul 13.00 WIB seolah menjadi magnet tersendiri bagi warga masyarakat yang dipandegani oleh Pasjar Kabupaten Kediri tersebut.

Tari Jaranan menjadi pembuka acara dengan diawali dengan para bopo-bopo jaranan menari disertai membawa bendera panji kebesaraan PASJAR, dan diserahkannya pecut (cemeti) oleh Bupati Kediri kepada Bopo Hary Pratondo. Acara dilanjutkan dengan Tari Kawedar, dan Tari Jingkrak yang dimainkan dari group jaranan Turonggo Mego Budoyo, dan yang paling ditunggu-tunggu yakni Tari Kolosal 1000 barongan.

Kegiatan dalam rangka Pekan Budaya dan Pariwisata 2014 itu menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Para penari itu mempertunjukkan aksinya di sepanjang jalan yang belum berfungsi normal di kawasan Simpang Lima Gumul. Bopo Hary Pratondo selaku Ketua PASJAR (Paguyuban Seni Jaranan) Kabupaten Kediri dan juga selaku Dirut PT HAPRA INDONESIA NEWS ketika ditemui di sela-sela pelaksanaan tari kolosal 1.000 Barongan mengatakan, acara ini sengaja mengusung kesenian Tari Barong, karena seperti pada tahun sebelumnya, untuk mengeluri budaya asli Kediri.

“Tari Barong adalah bagian dari Kesenian Jaranan yang merupakan kesenian asli Bhumi Panji-Kedhiri. Sementara Tari Barong sendiri melambangkan sifat semangat dan motivasi masyarakat yang positif dan semangat tersebut akan terus terjaga selama dikendalikan dengan baik Simbol nafsu duniawi yang positif,” ucap Bopo Hary Pratondo.

Lebih lanjut Bopo Hary Pratondo mengatakan, kesenian Tari Barongan adalah salah satu filosofinya menyimbulkan kebaikan dan keburukan sifat seseorang, dan tarian tersebut juga salah satu kesenian khas Kediri. “Kami sangat bersyukur, melalui pasjar bisa membuat rukun dan saling membantu antara grup-grup jaranan, khususnya di wilayah Kabupaten Kediri untuk menjadikan kesenian tradisionil bisa berkembang supaya anak turun kita mengenal kesenian daerah yang dimiliki,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Kediri, Haris Setiawan mengatakan, selain para penari dari Kediri, Tari Barongan itu juga diikuti oleh beberapa kabupaten seperti Kabupaten Salatiga, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Trenggalek, serta Kota Kediri.

"Pelaksanaan tahun ini lebih meriah karena banyaknya delegasi yang berpartisipasi, pemkab sendiri akan mengagendakan tari kolosal Barongan ini menjadi acara rutin tahunan di acara Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri," kata Haris. Selama pertunjukan, animo warga terbilang tinggi, ribuan warga memadati kawasan pertunjukan. Puluhan personil keamanan terlihat menghalau warga yang berupaya merangsek menonton lebih dekat.

Ketika Hapra bertanya pada salah satu penonton yang berada di sekitaran terminal Gumul, Paimen (26th) warga Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri mengatakan sangat senang dapat menyaksikan Tari Barongan oleh 1.000 penari tersebut. “Bagus dan kompak tariannya mas.

Saya senang bisa melihat Tari Barongan ini, karena kalau jaranan main, itupun bisa dilihat waktu malam hari, karena biasanya keluarnya Barongan itu memang untuk penutupan acara. Namun ini lebih bagus lagi, karena 1.000 Barongan dimainkan bersamaan,” kata Paimen kepada Hapra. (Galuh)

Semarak Pekan Budaya dan Pariwisata Kab Kediri

Written By Hapraindonesia on 8/10/2014 | 19:27

KEDIRI, Hapra Indonesia,co – Dalam rangka menyemarakkan event tahunan Parade Budaya dan Pariwisata Kab Kediri, pada minggu (10/8/2014) mengadakan pawai budaya dan parade mobil hias yang ber start di depan kantor Bank daerah Kab Kediri, sekitar SLG dan berakhir di kantor Pemkab Kediri.

Acara yang dimulai sekitar pukul 13:00 WIB tersebut diawali dengan suguhan pagelaran tarian Asmoro Condro Kirono dan Sanggrama Wijaya Tungga Dewi dan dibuka dengan Drum Band Corps Taruna Gita Suara Buana dari Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Surabaya.

Ritual “kepruk Kendi” oleh Bupati Kediri . Hj. Haryanti Sutrisno menandai di berangkatkannya pawai bobil hias yang di ikuti oleh 36 peserta dari berbagai wilayah di jawa timur dan parade pakaian daerah yang diperagakan oleh siswa siswi, mulai dari SD, SMP, dan SMP dari seluruh kabupaten Kediri dan sekitarnya.

Peserta Pameran selain dari SKPD Pemkab Kediri terdapat pula peserta undangan dari daerah lain, misalnya dari Pemerintah Kota Kediri, Nganjuk, Tulungagung, Bojonegoro, Ponorogo, Banyuwangi, dan Jembrana yang menampilkan potensi unggulan dari masing-masing daerah.

Perjalanan parade mobil hias dengan berbagai tema budaya dan pembangunan ini di hadiri pula oleh para tokoh-tokoh kabupaten, ataupun Kota Kediri, seperi Ir. Sutrisno mantan Bupati Kediri yang dalam acara tersebut mendampingi Bupati Kediri, Komandan Kodim 0809 Heriyadi, Walikota Kediri, Abdullah Abu bakar, Ketua PASJAR Kab Kediri, Bopo Hary Pratondo, dan masih banyak lagi lainnya.

Acara yang terselenggara di bawah panasnya terik sinar matahari tersebut tidak mengurangi antusias warga untuk menonton, buktinya sepanjang start di depan kantor Bank Daerah sampai sepanjang jalan menuju kantor Pemkab Kediri dipadati masyarakat yang ingin menyaksikan even tahunan tersebut. (B@m)

Parade Budaya Nusantara Meriahkan Hari Jadi Kota Kediri ke-1135

Written By Hapraindonesia on 8/07/2014 | 20:39

KEDIRI, Hapra Indonesia.co - Dalam Rangka memperingati HUT Kota Kediri yang ke-1135 tahun 2014, Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) mengadakan serangkaian acara.

Pada hari Kamis tanggal 7 Agustus 2014 Pukul 13:00 diadakan Parade Budaya Nusantara. Barisan pada Parade Budaya Nusantara ini terdiri dari Mobil Porijder dari Polresta Kediri, Drumb Band dari SDK Santa Maria, Pasukan Prasasti I Kwak yang diusung oleh beberapa prajurit dari anggota satpol PP Kota Kediri.

Barisan pejabat mulai dari barisan paling depan Walikota Kediri, dan Sekertaris Daerah Kota Kediri, dan di susul oleh kepala satuan kerja, camat dan lurah diiringi tabuhan Monggang, Tari Kolosal dari SMKN 2 Kediri, Barisan Bhineka Tunggal Ika dari SDN Banjaran 4, Musik Tradisional dari SMPN 1 Kediri, Tari Kolosal dari pelajar Papua yang tinggal di Kota Kediri, Musik Patrol dari 100 guru di IGTKI.

Ada pula Lomba Parade Fashion terdiri dari kategori umum dan pelajar. Selanjutnya, Festival Prajurit kategori umum dan pelajar. Kemudian barisan barongsai dari komunitas Klenteng dan Jaranan dari Wahyu Kridho Budaya dan tamu dari PASJAR Kabupaten Kediri.

Yang berbeda dalam parade budaya tahun ini, Yonif 521 juga akan mengirim pasukan Kolone Senapan untuk memeriahkan acara ini. Start dimulai pukul 13.00 WIB di parkir timur Stadion Brawijaya dan finish di Balaikota Kediri.

Rute yang dilalui adalah Jl. A Yani, Jl. PK Bangsa, Jl. Erlangga, Jl.Hayam Wuruk, dan Jl. Basuki Rahmad. Sepanjang rute yang dilalui Parade budaya tersebut di penuhi warga masyarakat yang antusias ingin menyaksikan acara tahunan ini. Walaupun kerumunan masyarakat dan sempat turunnya hujan sempat sedikit menggangu berlangsungnya acara ini, namun tidak mengurangi semaraknya acara tersebut. (B@m/Adv/Humkot)

Seniman Jaranan Meriahkan Hari Jadi Kota Kediri yang ke - 1135

Written By Hapraindonesia on 6/22/2014 | 13:34

Kediri, Hapra Indonesia.co - Sebagai upaya melestarikan dan meningkatkan seni budaya tradisional, para penggiat seni di Kota Kediri secara guyub menyelenggarakan pagelaran kesenian tradisional Kuda Lumping, atau yang biasa disebut Jaranan. Hal itu dilaksanakan sekaligus dalam rangka memeriahkan Hari jadi Kota Kediri yang pada tahun 2014 ini tepat berusia ke – 1135.

Seperti yang dilaksanakan Sabtu, tanggal 21 Juni 2014, mulai pukul 08:30 WIB di lapangan Kelurahan Dandangan, Kecamatan Kota Kediri, pagelaran seni budaya tradisional Jaranan, diikuti oleh sebanyak 15 kelompok kesenian Jaranan yang ada di wilayah Kecamatan Kota Kediri.

Acara ini terselenggara dengan maksud untuk menggali / melestarikan dan mengembangkan potensi seni budaya “Jaranan” serta mempertinggi harkat dan martabat kesenian Jaranan di era globalisasi. Selain itu juga bertujuan untuk meningkatkan semangat, kreatifitas dan kualitas kelompok-kelompok Jaranan yang ada di wilayah Kecamatan Kota Kediri melalui apresiasi dan pegelaran seni budaya tradisional, khususnya “jaranan”.

Dalam acara ini turut hadir, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Drs. H. Nur Muhyar, para Muspika Kecamatan Kota Kediri, para Lurah se- Kecamatan Kota Kediri, Ketua Paguyuban Jaranan Wahyu Kridho Budoyo Kota Kediri, Bopo M. Dhofir berserta anggota, dan Ketua PASJAR Kabupaten Kediri, Bopo Hary Pratondo beserta anggota. Nur Muhyar datang sebagai Kadin Budparpora Kota Kediri sekaligus mewakili Walikota Kediri yang berhalangan hadir.

Walikota Kediri melalui Nur Muhyar menyampaikan harapannya kepada para pelaku kesenian Jaranan supaya terus meningkatkan kreatifitas, agar kesenian Jaranan bisa tetap exist, dan kedepannya dikemas lebih baik.

Sementara, keesokan harinya, yakni pada hari Minggu (22 Juni 2014) dimulai Pukul 11:00 WIB, juga diselenggarakan Gebyar Kesenian Jaranan Se – Kecamatan Mojoroto di halaman parkir GOR Jayabaya Kota Kediri. Acara ini diikuti oleh 14 kelompok kesenian Jaranan di wilayah Kecamatan Mojoroto.

Terselenggaranya acara ini bertujuan sebagai upaya penguatan seni tradisional daerah dan membangun komunikasi antar komunitas pelaku kesenian, membuka wadah para seniman si Kecamatan Mojororoto pada khususnya, dan umumnya di Kota Kediri.

Dalam kesempatan tersebut, Drs. H. Nur Muhyar selaku Kadin Budparpora, para Muspika Kecamatan Mojoroto, para Lurah se - Kecamatan Mojoroto, Ketua Paguyupan Jaranan Wahyu Kridho Budoyo Kota Kediri Bopo M. Dhofir berserta anggota, dan Ketua PASJAR Kabupaten Kediri Bopo Hary Pratondo Beserta anggota juga tampak hadir dengan kompak.

Dalam acara ini, Mas Abu (panggilan akrab Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar, red) melalui Kadin Budparpora menyampaikan permintaan maaf karena berhalangan hadir, dan berpesan “agar kesenian jaranan di Kota Kediri tidak melenceng dari pakem (patokannya) dan kedepan supaya bisa lebih baik lagi membina kelompok Jaranan di lingkungan masing – masing.” “Ke depan pagelaran seperti ini agar sering dilakukan, supaya dapat meningkatkan ekonomi masyarakat, seperti banyaknya penjual yang menjajakan barang dagangannya, tukang parkir dan sebagainya,” ungkap Mas Abu melalui Nur Muhyar.

“Kami dari Dinas Pariwisata menyambut baik dan mengapresiasi dengan yang dilakukan Kecamatan Kota Kediri dan Kecamatan Mojoroto, beserta kedua jajaran serta paguyuban yang sudah bersedia tampil. Kami berharap pada event-event berikutnya penampilan Jaranan bisa lebih semarak dan lebih menghidupkan lagi kesenian Jaranan di Kota Kediri,” ungkap Nur Muhyar.

Kedua acara tersebut terselenggara atas dasar Peraturan Walikota Kediri Nomer 10 tahun 2014 tentang APBD Kota Kediri, sumber dana dari APBD Kota Kediri melalui satuan kerja kecamatan masing-masing. (AdvHms/B@ms)

PEMERINTAH KABUPATEN BLITAR OPTIMALKAN PARIWISATA MELALUI DESA WISATA

Written By Hapraindonesia on 6/10/2014 | 10:30

Blitar, Hapra Indonesia.co - Kabupaten Blitar terkenal dengan potensi wisata baik alam maupun potensi wisata situs budaya.

Untuk mengoptimalkan potensi wisata yang ada, Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporbudapar) Kabupaten Blitar melakukan berbagai upaya, yang saat ini ditekankan pada peningkatan pemberdayaan masyarakat.

Keterangan ini diungkapkan Kasi Pengembangan Obyek Wisata Disporbudpar Kabupaten Blitar, Yudhi.Menurut Yudhi, keterlibatan masyarakat sangat diperlukan untuk pengembangan desa wisata yang masing-masing desa memiliki potensi obyek wisata.

Saat ini setidaknya ada 5 desa yang sudah mengembangkan desa wisata dengan mendapatkan alokasi anggaran dari PNPM Mandiri pariwisata. Seperti Desa Tulungrejo Gandusari dengan pontensi wisata alam, Semen Gandusari dengan potensi kampung ekologis dan berhasil masuk 10 besar nasional, desa wisata, Krisik Gandusari.

Sementara untuk kecamatan Nglegok, Desa Penataran dengan potensi Candi Penataran maupun pemandian, sedangkan Desa Siraman Kesamben potensi wisata kuliner.Lebih jauh Yudhi mengatakan masih ada beberapa desa yang berpontensi untuk dikembangkan menjadi desa wisata diantaranya Desa Plosorejo Kademangan dengan potensi kampung coklat, Papungan Kanigoro petilasan mbah mujair, Tlogo Kanigoro dan Rejowinangun Kademngan dengan potensi makanan olahan, kemudian eks-lokalisasi Pasirharjo Talun dimana pemerintah desa setempat berencana mengembangkan lahan tersebut menjadi ruang publik.

Saat ini Disporbudpar Kabupaetn Blitar masih melakukan inventarisasi desa-desa yang memiliki potensi wisata untuk dioptimalkan lagi dengan melibatkan masyarakat sekitar. (IR-Dishubkominfo / nam)

Hayati Nilai-Nilai Pancasila, Grebeg Pancasila Sukses Digelar Tahun Ini

Written By Hapraindonesia on 6/01/2014 | 17:33

Blitar, Hapra Indonesia.co - Sudah menjadi tradisi setiap tahun, untuk memperingati hari lahirnya Pancasila setiap tanggal 1 Juni di Kota Blitar selalu digelar upacara budaya Grebeg Pancasila.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2014 ini selain upacara budaya juga diisi dengan ritus Bedolan Pusoko dan kirab Gunungan Limo serta Kenduri Pancasila. Prosesi bedolan pusoko dilaksanakan di rumah dinas Walikota Blitar yang dilanjutkan dengan kirab dan pawai lampion menuju Kantor Walikota Blitar pada malam sebelum upacara budaya Grebeg Pancasila.

Sementara itu, untuk Kirab Gunungan Limo dilaksanakan dari Aloon–Aloon setelah upacara budaya Grebeg Pancasila menuju Makam Bung Karno dan diakhir dengan Kenduri Pancasila.

Peringatan Gereg Pancasila mendapat respon positif dari semua kalangan, baik dari SKPD, lembaga sekolah maupun masyarakat. Antusiasme terlihat dari banyaknya peserta dan penonton festival lentera maupun pada perlombaan tumpeng dan gunungan serta rangkaian kegiatan yang lain.

Redy Wisono, pelatih Bregodo pembawa gunungan dan simbul garuda menilai, rangkaian kegiatan Grebeg Pancasila di Kota Blitar sukses dilaksanakan, termasuk kesuksesan para Bregodo dalam menjalankan tugasnya. Baik pembawa garuda besar simbol dari tanggal 1, garuda sedang yang jumlahnya 6 simbol bulan Juni dan garuda yang kecil yang jumlahnya 45 simbol dari tahun 1945, ditambah dengan gunungan-gunungan yang menunjukan sila-sila Pancasila dengan jumlah 5 gunungan serta pasukan Tri Sakti yang membawa tameng dan tombak yang menunjukan dari ajaran Bung Karno Tri Sakti.

Redy menambahkan, secara umum petugas Bregodo yang dilibatkan sekitar 135 sampai 145 anak termasuk cadangan. Menurutnya, untuk tahun ini lebih semarak dan istimewa. Karena tahun ini jumlah pelajar yang dilibatkan lebih banyak, seperti pembawa simbul-simbul.

Sebagai petugas Bregodo, tahun ini melibatkan pelajar SMK Negeri 1. Sebelum bertugas, efektif latihan sekitar lima kali. Latihan dipusatkan di halaman Pemkot Blitar dan Aloon-Aloon. Dalam pemilihannya bekerjasama dengan SMK Negeri 1 untuk memilih anak-anak yang biasa olahraga sehingga fisiknya kuat.

Pihaknya berharap, dengan Grebeg Pancasila yang sudah 14 kali sukses dilaksanakan di Kota Blitar, nilai-nilai yang ada di Pancasila senantiasa di maknai dan dihayati masyarakat, khususnya para generasi muda. Hal senada juga disampaikan Islan Gatot Imbata, warga Kota Blitar.

Pria yang pernah menjadi Ketua DPRD Kota Blitar ini mengatakan, kegiatan untuk memperingati hari lahirnya Pancasila yang digagas Bung Karno presiden pertama Republik Indonesia ini perlu dilaksanakan setiap tahun sehingga Pancasila sebagai idiologi bangsa tidak dilupakan.

Bukan sekedar gebyar peringatan saja, menghayati dan mengamalkan isi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari merupakan hal yang terpenting demi kebaikan dan keutuhan bangsa dan negara.Ribuan masyarakat yang menyaksikan rangkaian kegiatan Grebeg Pancasila, seperti pawai lampion dan kirab budaya, tidak hanya masyarakat Kota Blitar saja, namun juga masyarakat dari daerah lain, termasuk wisatawan yang berkunjung di Kota Blitar. (Humkot/nam)
 
Support : Hapra Indonesia
Copyright © 2011. Hapra Indonesia - All Rights Reserved